CERPEN

Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 Mei 2012

CINTAKU BERAHIR DI ANGKA TIGA (CERPEN)

Siapa aku, bagaimana aku mengartikan cinta yang sesungguhnya? Aku tak pernah mengerti sebuah game yang di sebut cinta ini. Penuh dengan trik, penuh dengan misteri, bahkan sulit untuk di tebak atau di reka-reka.

sudah tiga tahun lamanya Rey dan Wina menjalin hubungan. Diawali pertemanan, hingga semakin tumbuh bak bunga mawar yang selalu dijadikan andalan bagi pria untuk meraih perhatian wanita.

Hari berganti hari. Saling mengunjungi dan bercumbu seperti semut yang selalu menyugukan keningnya setiap bertemu. Mata Wina terpejam merasakan hangatnya nafas Rey yang melekat di keningnya. Tanpa perintah langsung, ke dua tangan Wina merangkul tubuh macho Rey yang membalasnya dengan dekapan yang begitu erat.

Berjalan bersama, berbagi cerita, tertawa, bahkan dalam tangispun Rey selalu hadir membawakan sebongkah ice cream demi senyum Wina yang indah. Lesung pipinya yang melukis wajahnya bak monalisa yang tak terhapus waktu. Menjelma dalam sugesti-sugesti yang mencurahkan bibit-bibit rindu ketika tak berama.

Itulah yang selama ini Wina rasakan. Kenyamanan, perhatian, dan kasih sayang yang membuat Rey berbeda dari pria-pria yang Wina temui. Saking takutnya, Wina selalu bertanya
"kamu di mana?"
"lagi apa, Rey?"
"udah makan?"
"Rey, Jangan tinggalin Wina yah"
itulah yang sering di ucap Wina baik lewat pesan singkat, maupun lewat telp.

***
Memang hubungan yang begitu akrab tidak menjamin suatu kepuasan bagi seorang Rey, pria tampan bak arjuna bagi Wina.
Itu jawaban yang di terima oleh Wina ketika ia bertanya.
"siapa Jes itu Rey?"
Sikap bungkam yang dipancarkan dari wajah Rey mengisyaratkan bahwa Jes adalah kekasih yang baru Rey kenal beberapa minggi ini.

Tidak ada yang bisa Wina lakukan. Ia tak bisa marah, hanya tergelam dalam kecembuaruan yang membuatnya sering meneteskan airmata di kamar mungilnya. Terkadang ia berpikir untuk mengakhiri hubungannya. Namun, ia tak sekokoh benteng cina, tak setegar hercules, hanya Wina yang tak berdaya. Apalagi setelah pernyataan yang menarik urat sarafnya hingga melelehkan air matanya.
"Maaf, Aku sayang ma dedek. Beri aku waktu untuk memikirkan bagaimana caranya meninggalkan Jes tanpa menyakiti hatinya"

Mendengar itu, Wina harus berabar jika harus memiliki Rey yang sudah menjadi mimpi IMAM hidup baginya. Sosok suami yang amat di impikan selama tiga tahun itu telah berbagi perasaan padan wanita lain.

***
Sudah 3 bulan berlalu. Tak ada perubahan, bahkan Wina pernah melihat Rey dan Jes berjalan berdua di sebuah caffe bola. Pemandangan itu membuat Wina sangat putus asa dengan keadaan yang terus meyiksa sanubarinya.
"maaf Rey, Kita putus saja" ungkap Wina.
"Kenapa dek? Please, kamu jangan lakukan itu, aku tidak bisa tanpa kamu dek.Beri Rey waktu" bela Rey. Wina menangis

"sampai kapan Rey?" tanya Wina tak sanggup menahan tangis.

"Jujur yang paling Rey sayang cuma Wina. Tapi, sikap Dedek yang selama ini terlalu protektif. Melarang ini dan itu, Dedek Juga suka marah-marah tidak jelas. Rey cuma ingin Wina berubah" ungkap Rey membela diri.

"kenapa tidak bilang dari kemarin mau Rey apa?" Wina menjawab terbata-bata.

"Karna Dedek nda pernah mau mendengar apa lagi mengalah untuk semua bimbingan Rey selama ini" ungkap Rey.

Wina mengakhiri pembicaraan itu dan membayangkan semua pernyataan Rey selama hubungan mereka terjalin. Wina baru ingat, ternyata setiap pertengkaran kecil yang sering terjadi tidak sepenuhnya di maafkan oleh Rey. Semua ia pendam dalam kesabarannya.

***
ke esokan harinya. Rey menemui Wina di kantin kampus. Keduanya tak seperti biasa saling memberikan ciuman di kening atau memegang jemari.

Di kantin itu Rey menceritakan. bahwa selama ini Jes lah yang selalu menjadi pelariannya selama mereka bertengkar. Jes yang juga mencintainya sejak dulu selalu ada untuk menenangkan dan mendengarkan semua curhat Rey tentang Wina.

"untuk sekarang! Aku harus memilih Jes! kita sahabat saja Win! Semoga kamu mendapatkan yang lebih baik dariku"

PRIA dan WANITA di RUMAH KOSONG (cerita hot) "NGAPAIN YAH???"

Di sebuah rumah kosong, sepasang kekasih sedang duduk berdua. Tidak ada orang lain di sana. Hanya ada suara burung dan suara angin yang mengibas daun pisang di sekitar itu.
***
Si pria memperhatikan bola mata si wanita yang sedikit merunduk malu (menampakan wajah manis ), Melihat respon postif itu, si pria langsung menggengam jemari halus dan menoleh ke kiri dan ke kanan. Si pria takut kalau-kalau ada orang yang sedang melihat aksi berikutnya.
***
Merasa aman, Si Pria menarik kepala si wanita agar menempelkan pipinya. Hum...si pria langsung menarik nafas panjang merasakan aroma tubuh wanita yang semerbak tanpa tanding itu. Si wanita tersipu dan merasa nyaman ketika si pria mulai menggodanya.
***
Si Pria melihat sela-sela yang dapat dijadikan bahan rayuan. Ia mulai memuji kecantikannya, halus kulitnya, terakhir mengungkapkan sebuah kata " aku sayang kamu" si wanita langsung merespon dengan gerakan verbal bersandar dalam pelukan si Pria.
***
Si pria melanjutkan aksinya. Menyentuh pipi dan mendekatkan wajahnya. Si Wanita merunduk malu tapi dalam hati terlihat menikmati skenario itu. Akhirnya si pria dan wanita terhanyut dalam cerita yang tak biasa itu.
***
Si pria dan wanta merasakan detak jantuk dan nafas yang tak bisa. Si wanita mencengkram erat-erat jemari si pria. Bandanya bergetar, matanya terbuka lebar dengan keringat di sekitar wajah (tegang)
***
Si Pria akhirnya membuka matanya yang terpejam dalam pelukan itu dan bertanya
"kamu kenapa sayang?"
Rupanya si wanita keringat dingin karena memegang sesuatu yang berbentuk seperti terong yang sedikit lembek itu.
***
Si Pria menegang, sedikit mundur dengan otot agak menegang.
"kita pulang yuk!" ajak si Pria.
"iya, ne Tai harus segera di cuci" ujar si wanita.
"iya, siapa yang boker sembarangan yah" tanya si pria.
***
akhirnya mereka berdua pulang.

Rabu, 11 Januari 2012

PANTAI MAMA


Sudah banyak bahasa yang ku ucapkan, sudah letih telapak kaki mengikuti badanku. Matahari terus saja menyengat hingga usang tapak jelas di kulit ari ku. Ku terus memacu semua hasrat yang tersembunyi di balik sembilu di hatiku. Aku kembali lagi menulis dan menulis, mengungkapkan semua keluh kesah dan mewakili semua perasaan yang tersembunyi di balik senyumanku. Satu prasasti ku kenang, ku ukir dibalik lumpur hitam di dekat rumahku.  Di sanalah aku mengijakkan kakiku yang dulu gemuk walau sedikit retak di sela telapak kakiku akibat kutu air.
Saat aku melangkah kencang, aku mendengar suara tawa ciptaaNYA yang lain. Ada yang sedang mengisap sebatang rokok, menghirup kopi yang menangis di dalam cangkir. Ada juga yang sibuk bercanda dengan pasangan-pasangan mereka.
“Mita!” seorang ibu berusia 35 tahun memanggilku. Aku berhenti, enggan kedua pasang mataku untuk melirik ke sisi lain. Aku merasakan rasa gelik dari tawa-tawa mereka yang sedang memandangiku penuh kegelian. Aku hanya diam saja.
“Suruh ibumu ke mari! Ada sisa makanan di dapur! Sayang kalau tidak di makan!” lanjut ibu itu.
Ku jawab dengan senyuman lalu berbalik arah menapaki jalanan yang terasa menyengat di telapak kakiku. Ku terus menerpa angin, terus berlari, sembilu di punggungku menagis, bilur-bilurnya mengering, darah ku menempel erat di punggungku. Ku hempaskan badanku dan menerawang gugusan awan putih. Debur ombak pantai, suara kicau burung, tarian-tarian keong, serta buih-buih laut yang menambah indah nuansa pantai.
Sejenak aku terbawa dalam lamunan, wajah ibuku menari-nari, tatapan matanya begitu tajam meneriaki lamunanku. Gelembung air mata perlahan merayap dari ujung mata. Ku remas gumpalan pasir putih yang ku genggam, jejarum hujan menabrak wajahku sedikit demi sedikit. Inilah yang ku rasakan setiap hari, mungkin sampai waktu akan berhenti berbincang tentang ibuku. Meneriaki kutukkan yang ku terima dari mereka.
Aku bangkit melihat gulungan ombak di pantai itu. Perlahan debur ombak menyapa telapak kakiku. Ingin sekali aku mengajak ibu di sini seperti dulu. Berlari-lari bersama ayahku yang paling aku cintai. Ayah! Seorang ayah kebanggaanku yang pergi menginggalkanku dan ibu. Ayah yang rela menikah lagi dan membiarkan kami memakan nasi sisa dari rumah makan yang tidak jauh dari gubuk tua itu. Di samping gudang tua, jauh dari manusia-manusia yang mengucilkan ibuku.
Sejak kecil aku di sebut anak pelacur, Anak perempuan nakal, dan anak haram, tapi dia ibuku. Ibuku yang paling sayang padaku, ibu terbaik dari keindahan pantai ini. Ibu yang selalu memberiku makan, ibu yang memukuli punggungku hingga begini. Aku cinta pada Ibu! Dia penyelamatku ketika orang-orang melemparinya dengan kutukan, ketika orang melempari kami dengan batu, ingin membakar kami dengan api. Ibu yang memelukku, dia pahlawan yang luar biasa.
Sejak peristiwa itu terjadi. Ayahku tidak membela, ia malah pergi jauh meninggalkan kami. Ayah yang malah mengajakku turut meninggalkan ibu dalam keadaan sakit. Mereka memang perduli padaku, tapi mereka tidak perduli pada keadaan ibu. Mereka memintaku meninggalkan ibu karena takut aku terjangkit penyakit kutukan. HIV kata mereka, Ibuku terjangkit penyakit menular karena menjadi pelayan para pria hidung belang di sebuah hotel berbintang.
Sudah dua tahun peristiwa itu berlalu, tapi tak sedikitpun terhapus dari ingatanku. Tuhan bilang padaku, Ibu adalah malaikat penolong, surga ku ada di telapak kaki ibu. Aku tak mungkin menginggalkan ibu walau ia terus memarahiku, mengusirku, memukul sekujur tubuhku, sampai mengusirku dengan sebilah rotan. Luka-luka ini tidak seberapa jika dibandingkan luka yang ibu rasakan. 
Aku berdiri, perlahan langkah kakiku menapaki hamparan pasir putih mendekati gubuk tua di tepi pantai. Aku mendengar ibu merintih kesakitan, ia menghapus luka yang semakin bernanah di lengannya. Rambut ibu yang semakin rontok, semakin tampak tua oleh penyakit itu. Dengusan tangis ibu bagai doa-doa yang tak mungkin ada jawaban. Perlahan aku duduk tepat di pintu gubuk sambil menatap pantai tanpa penghuni itu. Rasa sayang ibu tertancap dari mulutnya, ia kembali menyurukku pergi menemui ayah dan tinggal bersama mereka. “Kamu akan tertular kalau bersama ibu! Pergilah!!”  kata ibu lagi padaku.
Linangan air mataku menjawab kata-kata ibu. “Mama! Cukuplah mereka yang meninggalkan, Mama! Janganlah anakmu ini kau usir pergi! Tak ada yang bisa anakmu lakukan selain menjagamu, Mama!”  aku berdiri dan mendekati Ibu.
Air mata yang sudah mengering terus terpancar dari mata ibu yang selalu memerah. Dari wajah ibu terpancar rasa ingin memelukku dengan erat. Namun, ia hanya bisa mengacungkan rotan agar aku tidak mendekatinya. “Mita! Mama terkutuk! Bahkan sampai raga ini tak bernyawa lagi! Mungkinkah ada seseorang yang berbaik hati yang bersedia memandikan jenasah terkutuk ini! Atau menguburkan bangkai busuk seperti ini”.
Perkataan itu membuatku berhenti sejenak. Gulungan pantai membawa derasnya air mataku yang tak bisa ku tahan lagi.  “Mama! Aku anakmu, Ma! Biarlah tangan ini yang akan membasuh sekujur tubuh, Mama! Biarlah badan kecil ini yang akan menguburkan jenasah Mama! Aku masih bisa melakukan itu!”
Mendengar ucapan ini, ibu melempariku dengan sebilah rotan di tangannya. Tak mau membuat ibu sedih dengan keberadaanku. Aku berlari sekencang-kencannya menyusuri pasir putih sambil berteriak di dalam hati. Ku tatap langit yang mendung kehitam-hitaman, dalam secarik kertas itu kutulis nama ibu yang paling ku sayangi. Ku ikat dalam sepotong kayu dan menghanyutkannya di pantai ini. Aku berharap Tuhan akan membaca nama ibu dan mendengarkan semua keluhan ibu, keluhanku, dan memberikan sedikit keceriaan pada kami berdua.  Aku tahu, Tuhan ada di mana-mana! Aku tahu, esok atau lusa ibuku tercinta akan kembali menemaniku menapaki pantai yang penuh dengan cerita ini.
Selamat jalan untuk hari ini, aku harap engkau jangan pernah kembali sebelu ibuku kembali tersenyum manis seperti dulu. Dia tahu ibuku adalah pelacur, Dia juga tahu kenapa ia mengutuk ibu seperti ini. Jawaban atas resah ini hanya satu, kenapa ibuku harus rela menjadi pelacur? Ibu menyayangi kami, dan hanya nafkah haram yang membuatku berdiri tegar di atas pasir putih.

Minggu, 04 Desember 2011

PERAHU KERTAS


Jika ada yang bertanya  “kenapa aku masih tetap berdiri di sini?”

.Aku akan menjawab, “karena hujan belum berhenti untuk mengintaiku dengan siramannya. “

Jika ada yang bertanya padaku, “kenapa kamu masih duduk di situ?”

Aku akan menjawab dengan hatiku, “karena aku masih penasaran kenapa bumi mengembalikan hujan yang turun dengan pantulan yang indah”

Dalam hatiku mengalir jiwa seni, “aku sebenarnya merasakan begitu dingin hujan yang memcakar 
wahahku! Tapi di dalam kelabunya hari aku tetap tentang dan merasa bahwa hari ini adalah hari yang panas! Suhunya juga ku anggap sebagai ketenangan yang ku sembunyikan”

Hujan semakin deras, aku penasaran pada genangan air yang menari-nari seakan sedang terbebas dari ketakutan. Awalnya ia amat takut ketika langit menghujamkannya ke bumi. Namun, ketika ia sampai di bumi. Mereka seakan melantunkan musik-musik dan terompet tahun baru seperti manusia-manusia. Ada di antara mereka yang menerpa genteng, seng, kaleng, tanah, dan gedung-gedung. Keributan itu pertanda kebahagiaan bagi mereka.

Sambil mengoyang-goyangkan tanganku di atas kubangan, aku melihat mereka berebut menyetuh tanganku yang penuh dengan kotoran. Mereka membersihkannya,  “mungkin ini adalah pekerjaan mereka!”bisik hatiku.

Hujan semakin deras, senyumku semakin terbawa ketika melihat cahaya matahari yang mereka tutupi. Dalam hatiku girang bicara, sebentar lagi genangan air ini akan semakin dalam. Aku pun bergegas menuju kamarku dan mengambil beberapa helai kertas putih. Ku lipat menjadi perahu-perahu kertas yang berwarna-warni. Ku letakkan di atas kubangan air itu, mereka terus membuat perahu itu terombang-ambing gelisah. Aku tertawa, aku melihat diriku sebagai nakoda dalam perahu itu. 

Lima menit aku terus memandang perahu kertas itu, tak ada satupun ombak yang mampu menerjangnya hingga tenggelam. Dengan penuh rasa penasaran, aku membuat arus menjadi lebih kencang. Perahu itu terpukul hingga pinggirnya menelan air dan menenggelamkan kertas itu. Aku puas, itulah aku. Jika nanti aku akan tenggelam dalam kepuasan-kepuasan orang lain pasti akan menjadi kebanggaan bagi mereka. Tak ada yang mau perduli tentang bangkai kapal itu.

Aku pun meniggalkanya perlahan sambil menoleh bangkai kapal yang tampak sedang menangis. Air mataku pun turut menyempurnakan senyuman kekesalan itu. Ketika ku tiba di pintu kamarku, gerak badanku begitu prihatin. Aku pun berlari dan mendekati kapal itu, ku ambil dengan kedua tanganku. Di sana masih ku baca ada namaku dan namanya walau sudah hampir terhapus waktu yang penuh tantangan.

Ku tiup dengan kipas angin sambil menopang kedua tanganku di pipi. Tiupan  angin itu ternyata mengoyak nama yang tersimpan dalam perahu itu. Namaku di pisahkan dari namanya, aku gelisah. Akal sehatku mencari setrika dengan harapan kertas itu akan mengering oleh panasnya. Ku simpan perahu itu di atas meja yang dilapisi dengan kain sutra berwarna putih. Kilasan kipas membakar air menjadi uap yang panas dari kemarahannya. Perahu itu berteriak menahan siksaan itu. 

Setelah tampak mengering, aku terkejut melihat perahu itu. Warna merah yang menghiasi namaku dan namanya berubah menjadi merah muda. Warnanya telah memudar menampakan wajah sedih penuh beban. Hatiku dipenuhi penyesalan yang dalam, ku coba menarik bagian-bagian kertas itu agar kembali menjadi sebuah perahu kertas. Namun, hal itu tak pernah terjadi. Unsur-usur itu telah berpelukan ketika kipas menindihnya kesakitan. Namaku dan namanya telah berpelukan dan rela mematikan dirinya demi kepuasan orang lain.

Sambil menyandarkan badanku di kursi belajarku. Ku balut perahu itu dengan kasih sayang, ku ambil lagi spidol warnaku. Aku coba menerangi namaku dan namanya sehingga tampak indah. Dua jam memandang dengan cinta, ku ucap permintaan maafku pada perahu yang sedang menangis itu. Aku melihatnya tersenyum dalam warna yang kembali cerah. Aku pun duduk di atas tempat tidur sambil menatap kosong. 

Suara degup kaki terdengar girang mendekatiku. Ia mengambil perahu kertas itu dan membawanya lari. Ku kejar namun aku takut si kecil itu kembali merusak modelnya atau merobek-robek namaku dan namanya. Aku terkejut, perahu itu terlempar lagi ke luar jendela. Arus got menghanyutkannya begitu deras. Lompatanku terus mengejarnya, tak ku hiraukan hujan yang membasahi sekujur tubuhku. Air mataku mengalir bersama air hujan, bibirku bergetar, mataku yang memerah terus mencari dan mengejar arah arus yang melarikan namaku dan namamu.

Badanku basah kuyup. Perahu itu terbawa arus hingga ke air sungan yang besar. Aku hanya bisa berdiri di atas jembatan dan melihatnya mengambang dengan lambaian kesedihan. Aku berteriak kencang dalam hatiku. 

“Kembalilah! Aku berjanji tidak akan menyia-nyiakanmu!”

Ia tak mendengarku lagi. Ia semakin kecil dan tenggelam dalam jarak yang semakin tega meneteskan air mataku. 

Matahari petangpun terpancar dari arah depan. Ku rasakan hujan tak menyapaku lagi. Tatapan ku yang kosong tak lagi berair, aku pulang dengan penuh sesal. Aku berjanji pada dunia, akan ku buat perahu-perahu yang lebih banyak lagi untuk namaku dan namanya. Sebab, satu perahu tak akan sanggup memperkuat cintaku padamu.a

Jumat, 02 Desember 2011

HARUSKAH KU SALAHKAN TAKDIR?

Ini kisah malang yang sebenarnya sulit ku percaya. Bahkan untuk mengingat semua lututku menyilu, kaki ku bergetar, mataku enggan melirik, bahkan senyumanku terasa begitu pahit. Awalnya mengenal seorang pria romantis, tampan, dan penyayang adalah dambaanku. Mungkin ini sama seperti kebanyakan wanita-wanita. Harapan itupun terjawab, Frenky. pria tampan, perhatian dan yang paling penting dia sudah bekerja di perkebunan. Aku sangat bangga memiliki dia dalam hidupku.

Beberapa bulan kami menjalin hubungan akhirnya aku merasa sangat nyaman berada disampingnya. Rasa rindu akan aroma badan dan tatapan matanya yang amat ku hafal. Hal yang membuatku sangat bangga adalah ketika Frengky membuktikan cintanya dengan melamarku menjadi istrinya. Rasa girang itu ku sambut dengan riang, pria mapan yang amat ku harapkan siap menjadi imam bagiku sudah ada di depan mata.

Kami pun menikah dan setelah beberapa bulan, aku hamil. Aku dan Frangky sangat bahagia. Setiap aku tidur Frenky selalu memegang perutku, bahkan untuk mencuci pakaian saja dia rela. Aku sangat girang dan bangga mendapat suami yang amat perhatian padaku. Frenky adalah pria yang sangat sabar, walau sering emosiku menanjak dia selalu membuatku tersenyum.

Selang lima bulan aku mengandung, dia mulai sibuk dengan pekerjaannya. Dia sering pergi ke luar kota untuk survey lapangan. Sebagai seorang istri, aku harus mendukung profesi suamiku. Hari-hariku semakin berat ku lewatkan, kandunganku semakin besar dan amat terasa kerinduan yang padanya. Awal kepergiannya, dia sering sekali memberiku kabar bahkan menanyakan keadaanku. Tapi entah kenapa setera beberapa bulan berlalu aku jarang mendengarkan kabar darinya. Sering aku menghubunginya, namun selalu saja sibuk dan terdengar sedikit emosi.


Usia kandunganku pun memasuki masa-masa akhir. Rasa panik dan rindu kehadiran suami tercinta selalu membuatku menangis. Ketika malam tiba, aku mulai meresah merasakan tendangan dari bayi mungilku. Aku tidak bisa duduk atau berdiri, tendanga itu terasa begitu ganas menyentuh dinding rahimku. Ku pangil-pangil nama Frenky dalam doa. Ku memintanya pulang dalam air mata, namun semua hanya doa-doa semu. Hanya harapan yang sia-sia. Darah membasahi celanaku, keluargaku tampak panik dan segera membawaku ke rumah sakit bersalin.

Aku pun melahirkan seorang putra yang mirip sekali dengan Frenky. Aku berusaha menelponnya, tapi tak ada yang menjawab. Rekan kerjanyapun tampak menyembunyikan keberadaannya. Aku sadar, suamiku sedang mempermaikan perasaanku. Sebagai wanita aku hanya bisa memeluk bantal dan menutup pintu kamar. Menungu dan terus menunggu ia datang memeluk dan membelai rambut bayiku hingga ia tertidur.

Anakku berusia dua tahun, Frenky benar-benar tidak ada kabar. Ku berdiri di tepi sungai yang mengalir lembut. Aku bertanya pada air yang mengalir sampai tetesan air mataku menentuh riak air. Aku ingin tetesan air mataku terbawa arus hingga suamiku dapat menghirup kerinduanku hingga raganya. Sentuhan lembut tanganku berusaha menyejukan tangisan bayiku yang mulai gelisah dan tak mengenal Ayahnya. Aku tak berdaya untuk mengajarinya berbicara. Aku pernah melihat bayi mungil dalam pelukan orang tuannya. Mereka mengajarinya menyebut "MAMA" setelah itu " PAPA" tapi bagaimana?

Dua tahun berlalu, rasa putus asa pun timbul dari hatiku. Aku memutuskan untuk menceraikan suamiku. Aku merasa menjadi perempuan bodoh yang selalu menunggu harapan yang tak pernah terjawab. Hanya cita-cita yang mencuakkan mimpi-mimpi yang tenggelam dalam kesedihan yang pahit. Dalam hatiku sangat menangis, melupakan seorang suami yang amat aku cintai adalah kepedihan. Ketika orang merasa tua dia selalu mengingat semua kenangan-kenangan yang pernah ia lalui. Tapi sekarang, usiaku masih muda aku berharap ada seorang pria yang tulus mencintaiku dan anakku. Aku butuh kasih sayang dari seorang suami yang serius. Aku tak sanggup menjadi dedaunan kering yang terkulai dan terinjak-injak tanpa daya.

Ada satu hal yang sangat menguatkan prisipku untuk menceraikan Frenky. Dia adalah sahabatku Vinno. Dia menjadi lumbung curhatku selam suamiku meninggalkan aku. Aku merasa nyaman setiap ku ceritakan semua keluh kesahku. Sampai suatu ketika, Vinno terus mendesakku untuk segera menceraikan pria tak bertanggung jawab seperti Frenky.

Hadirnya Vinno seperti malaikat bagiku. Ditengah rasa kehilangan yang begitu pahit, aku melihat wajah anakku yang lucu yang tentu sangat membutuhkan seorang ayah sebagai imam keluarga. Dengan harapan itu, ku bulatkan tekat untuk meceraikan suamiku. Itupun dipertegas oleh keputusan Vinno yang ternyata mencintaikku. Dia siap menerimaku apa adannya, perhatiannya pada putraku sangat luar biasa. Aku kagum pada sosok Vinno walau sebenarnya aku tidak percaya lagi pada kata cinta.

Aku dan Vinno pun menjalin hubungan cinta itu. Setiap hari kami selalu bersama, ketulusan Vinno kembali menguatkan dan membersihkan hatiku dari noda yang amat lekat dalam perasaan. Vinno mengajakku bertemu dengan orang tuannya, merekapun tampak cerah melihat kehadiranku bersama Vinno. Apa lagi putraku yang sudah sangat akrab dan menganggapnya sebagai seorang Ayah.

Hubungan kamipun semakin erat, sampai suatu malam aku siap menyerahkan semua yang ku miliki untuk Vinno. Cumbuan hangat ku rasakan darinya, dia sangat luar biasa. Aku sangat terlarut dalam cintannya, ya dialah sosok suami yang amat ku kagumi. Aku tidak perduli pada keadaan apapun asal tetap bersama Vinno. Indah matannya, lembut perhatiannya, serta tutur bahasanya yang membuat seluruh badanku enggan untuk menepis keberadaannya.

Hubungan kami berlangsung begitu indah. Tanpa kami sadari ternyata aku kembali mengandung. Aku sangat bangga walau status aku dan Vinno hanya sebatas pacar. Aku tidak memberitahu kedaanku pada Vinno, semua itu karena bahasa Vinno yang akan menikahiku dalam waktu dekat. Aku ingin memberikannya kejutan atas kehamilanku.

Haripun berganti, rasa riang terus terngiang ketika Vinno akan menggendong bayi munggil yang berada di perutku. Vinnopun mengajakku bertemu, aku di ajak bertemu dengan keluargannya. Betapa terkejut hatiku melihat wajah ibu yang dulu selalu memberiku belaian dengan kata-kata pujian. Melihat sikap orang tuannya, Vinno mengajakku ke suatu tempat yang sepi. Di sana ia bercerita kalau dia baru jujur mengatakan bahwa aku adalah seorang janda dengan satu anak. Keluarganya tidak bisa menerima keadaanku, apalagi mereka menilaiku sebagai seorang perempuan hina yang ditinggalkan suami.

Mereka menilaiku sebagai perempuan nakal. Kesimpulan itu sungguh mengejutkan semua perasaanku. Apalagi aku tahu bahwa aku sudah hamil. Aku  membayangkan semua perkataan dan penilaian orang tua Vinno. Aku sangat sedih, air mataku menetes bersama air yang membuat dedaunan merunduk layu. Ingin rasanya aku berlari jauh dan tidak mengecewakan Vinno. Tapi, rahimku telah siap menunggu marga Vinno melekat dalam namannya. Dengan harapan Vinno memiliki pendapat dan bisa bertidak positif, akupun menceritakan kehamilanku padanya. Dia tampak riang sambil memberkan pelukan hangat padaku. Di sana aku tampak begitu kuat walau suasana keluarganya tidak menghendaki keberadaanku.

Bunga-bunga mekar di pagi hari, aku menatapnya setiap pagi sampai warnanya berubah menjadi kecoklatan. Ku tatatap telpon gengamku dan menghubunginya. Namun, nomornya tidak aktif lagi. Dia seperti menghilang ditelan bumi. Rasa benci dan cinta bercampur aduk, aku tidak bisa menyalahkannya tapi di satu sisi dia harus mempertanggungjawabkan kehamilanku ini. Ingin sekali aku bertemu dengan ke luargannya. Tapi, rasa malu  menghentikan langkahku untuk mencarinya. Aku sangat mencintainya dengan tulus.

Semakin dia tidak ada aku malah semakin mencintainya. Rasa yang ku tuai bersama hujan deras ini membekukan hatiku yang sesungguhnya terlarut dalam kesedihan. Ku panggil-panggil, ku buai lembut wajahmu yang terpampang di samping ranjangku. Masih ku cium harum badanmu bersama udara. Tengkuk ku masih merasakan rayapan bibirmu yang membuat sekujur tubuhku bergetar. Ku teringat lagi tentang mata hangatmu yang terpejam dan harum nafasmu yang menerawang pori-pori hasrat bersamamu.

Rasa cinta yang tumbuh kian dalam itu memaksaku mencarimu dari sahabat-sahabatmu. Namun, dunia selalu memihak pada perih ku, tak satupun kabar yang menunjukan persembunyianmu. Dalam hatiku bicara tentang perasaanmu yang ku ragukan. Tangisan kumbang-kumbang, rayapan suara adzan dikala petang datang merangkul dan meremas isi hatiku dalam pasungan yang tak berharga.

Sering ku panggili namamu ketika ku makan, aku teringat suapan serta sentuhan jemarimu menghapus tetesan hujan yang membasahi keningku. Ku teringat ketika dagumu menempe dipundakku dan bercerita tentang harmoni. Tanpa ragu aku terbuai merasakan kehangatan bahasa-bahasa cinta yang kau taburkan. Ingin rasanya aku kabarkan semua pada dunia agar orang melihat cintaku bukan dari keterpurukan ini. Aku jga manusia yang membutuhkan cinta sejati. Kenapa saat aku terjatuh dan membutuh topangan, hadirnya Vinno malah membuatku semakin terjatuh menjadi keping-keping yang sulit ku rangakai.

Aku tak berdaya menghadapi semua ini. Aku juga tak ingin melihat Vinno terus-menerus tersiksa dalam kebimbangan. Aku memutuskan untuk mengugurkan buah hatiku bersama Vinno. Aku mengira Vinno akan menahanku untuk mengugurkannya tapi malah sebaliknya dia tersenyum seakan tidak perduli pada keadaan ku yang begitu perih.

Semenjak kejadian aborsi aku sering melamun, aku sering membayangkan bayiku dan tawa canda antara kami. Namun, kali ini aku ingin bicara pada dunia bahwa aku tidak sendiri dalam kesepian. Masih banyak di antara mereka yang sempat menangisi cintanya. Aku akhirnya mengiklaskan kepergian Vinno dan memilih untuk menjaga buah hatiku yang paling kusayang.




Kamis, 01 Desember 2011

cerpen “ROBIN KU SAYANG”


“cinta yang bagaimana yang kamu maksud?”  Vero geram
.
“Ow... kamu tidak tau atau pura-pura lupa?”  Robin menjawab kecewa.

“Hm...lihat dulu diri kamu! Baru menilai orang!!!”  Vero melangkahkan kakinya menjauhi Robin.

Robin bergegas mengejar dan menarik pundak Vero. Merasa tidak tengang, Vero berusaha menepis peggangan itu dan mendorong badan Robin. Matanya berkaca-kaca, wajah memerah dengan tiupan nafas yang menggerakan kedua bahu naik-turun. Mata yang menatap garang seakan mengancam Robin  dengan akibat yang selanjutnya akan terjadi.

“Ver! Dengar dulu yang ku maksudkan!!! Harusnya kamu tidak menanggapinya dengan emosi begitulah! Justru kita sama-sama cari permasalahannya! Bukannya marah, diam, trus pergi tanpa kabar!”  Jelas Robin.

“Yah... suka-suka akulah! Itu udah kebiasaan aku, jadi terserah akulah!”  menghindari pandangannya pada Robin.

“tapi ini Cuma masalah kecil,Yank! Kenapa sih kamu egois begitu? Berpikir pakai logika sedikit kenapa?”  emosi Robin meningkat.

“Oya.... emang selama ini kamu pernah dengar atau ngalah? Jangan sok baiklah yah!!!”  sinis.

“He.... jadi maksud kamu selama ini aku nda pernah ngelakukan apapun? Apa kamu nda ingat semua yang ku lakukan buat kamu? Pernah ku nyakitin kamu? Pernah ku jalan ma orang atau ngianatin kamu? Pernah aku ngingkari janji ku sama kamu? .........(menarik nafas)  sudahlah! Dengan membahas ini malah membuat masalah kita semakin besar!”  Robin menenangkan dirinya.

“Kamu selalu begitu! Mana pernah mau ngalah! Ngelawan terus!!!”  berusaha menghindari Robin.

“Yankk!!!! Kalau kamu pergi berarti masalah ini tidak akan selesai! Itu sudah sering terjadi! Aku takut ada apa-apa nanti! Ku tidak bisa berpisah dalam keadaan bertengkar seperti ini. Aku takut ada akibatnya nanti!”  Robi gelisah.

Vero tidak mengindahkan nasihat Robin walau dalam hatinya juga berniat untuk menyelesaikan masalah tersebut. Vero tetap saja tersus memaksa untuk pergi, menolak tarikan Robin hingga Robin memaksa untuk duduk di atas motor tersebut. Veropun tidak bisa berbuat apa-apa selain berpasrah dan tetap konsisten dengan sikap dinginnya.

“Pokoknya kamu tidak boleh pergi sebelum masalah kita selesai”  kata Robin dengan tegas.

“Terserah kamulah!!!”  Jawab Vero.

“Kenapa sih? Bicaralah kalau ada yang kamu tidak suka!!! Jangan diam terus! Bagaimana bisa menyelesaikan masalah kalau yang dihadapi diam terus!”  jelas Robin.

“YA udah!!! Ku mau pulang!!”  jawab Vero.

“Nda!”

“Aku mau pulang! Ngapa sih nahan-nahan?” 

“Pokoknya nda usah pulang sebelum masalah kita selesai” Robin tetap menahan.

“Terserahlah!!!”

Robin mengarahkan spion motor melihat wahah Vero yang amat kecut. Rasa kesal dan bingung membuat Robin terasa hancur. Robin bukan seorang yang suka marah pada orang lain. Dia tidak pernah memiliki musuh. Apa bila dia merasa ada orang yang tidak menykainya, dia segera meminta maaf kepada orang tersebut walau ia menyadari kalau itu bukan kesalahannya. Kedamaian itu indah, itu motivasi hidup Robin.

“Yank! Ku minta maaf udah marah-marah tadi! Ku sayang banget sama kamu” Robin menggengam tangan Vero.

Vero tetap saja bungkam dan melemahkan tangannya tanpa respon. Vero menjual tampang kusut dan semakin tidak perduli pada semua perkataan Robin. Merasa semakin rumit pertengakaran tersebut. Dengan tarikan nafas panjang Robin turun dari motor itu sambil menatap tajam mata Vero. Dengan sedik senyum ketulusan Robin mempersilahkan Vero untuk pergi walau dalam hatinya begitu sakit.

Tanpa menunggu atau berbicara sedikitpun Vero langsung meninggalkan Robin yang masih berusaha menggapai Vero.  Rasa sesal yang dalam menyelami isi otak Robin malam itu. Perkelahian cinta dalam batinnya semakin ganas. Peperangan antara cinta sejati dan keiklasan membuatnya tak berdaya.  Robin mengeluarkan sebatang rokok dari kantungnya. Walau berusaha, pikirannya tetap terasa begitu berat dan tidak tenang. 

Sekitar lima belas menit lamannya , Akhirnya Robin memberi suara pada motornya.
“Aku cinta kamu! Kenapa kamu tidak pernah mau ngerti? Bukannya pacaran ini kita belajar saling memahami dan melengkapi? Kenapa hanya masalah kecil dan aku merasa itu bukan salahku malah kamu yang marah?”  Motor berjalan santai menikmati malam.

“Apa ku salah meminta kamu memesan nasi goreng di kantin itu? Padahal aku hanya meminta kamu memesannya! Tapi jawaban kamu capek! Padahal posisinya aku benar-benar lapar dan sibuk mengerjakan pekerjaan kampus kamu! Bukannya membantu malah jawaban malas dan sibuk dengan Facebookmu!”  semakin dalam terngiang di kepala Robin.

“Yank! Sampai kapan? Kamu tahukan aku tidak pernah bisa jauh dari kamu? Berilah ku kekuatan untuk mendidik kamu menjadi wanita yang bisa ku cintai dengan tulus hingga nanti! Aku tidak mau hubungan kita berakhir! Ku mau kita belajar bukan bertengkar!” Robin begitu kesal.

Kendaraan semakin melaju kencang. Selipan motornya mewakili perasaan amarahnya yang tak tersalurkan. Robin tidak bisa memarahi Vero karena perasaannya yang begitu tulus.  Semua emosi Robin dilampiaskan pada kendaraan yang semakin lama semakin tidak perduli akan bahaya.

“Ok! Aku tidak akan hadir dalam hidup kamu lagi! Aku nda akan ganggu kamu lagi , Yank! Maafkan aku! Mungkin dengan begini ku bisa jauh dari kamu tanpa pikiran!”  Robin memejamkan matannya.

Motor semakin kencang melaju, sesekali mata Robin terbuka dan mengelak kendaraan yang berada di depannya. Tapi melihat sikap Vero membuatnya kembali terpejam sambil meneteskan air mata. Rasa berdebar dan was-was berusaha pergi dari otak waras Robin.

Kendaraan menjadi macet, suara sirine polisi serta barisan POLANTAS terus mengatur lalu lintas yang semakin padat. Di tengah kepadatan itu tampak seorang pria yaitu Robin. Kepalanya berdarah, wajahnya luka parah dan tulang pahanya tampak memutih di luar kulitnya. Motor yang di kendarai Robin terlempar jauh darinya.  Dari saku jaket Robin terdengar suara panggilan dari Handphonnya. Nada itu adalah nada khusus dengan suara Vero yang terekam. Robin berusaha tersenyum puas sambil mengeluarkan darah. Alunan lagu dari saku jaketnya mengantarkan wajah Vero yang tak akan ia temui lagi. 

“Yank! Terima kasih untuk semua kasih sayang kita! Untuk semua manja yang pernah ada! Mungkin ini lebih pantas agar di antara kita tidak akan ada yang terluka lagi! Aku sayang kamu!”  sambil menciptakan senyum.

Semakin terasa begitu padat, orang-orang mengantar Robin ke Rumah Sakit terdekat. Seorang Polisi mengangkat mengambil HP di saku Robin.
“Hallo selamat malam!” 

“siapa?”

“Maaf saya Briptu Purwanto! Saudara pemilik HP mengalami kecelakaan!” 

“Siapa?”

“Robinsson! Saudari siapa?” 

“Sekarang bagaimana, Pak? Keadaannya gimana? Di mana sekarang? Apa dia baik-baik, Pak?...” Panik Vero.

“Kita bertemu di rumah sakit Yehuda! Kami sedang dalam perjalanan ke sana!”  

Betapa terkejut hati Vero melihat keadaan Robin yang terluka parah dan tidak sadarkan diri. Terbayang dalam hatinya pertengkaran yang baru saja berlangsung.  Vero tampak gelisah, menangis, menyesal dengan semua perbuatan yang dilakukannya. 

“Yank! Kenapa bisa begini?”  dari balik kaca sambil menangis.

Dokter-dokter begitu ramai dengan busana biru muda dan masker. Robin akan di operasi untuk mengeluarkan pendarahan di otaknya serta memasukan tulang pahanya yang tampak dari luar.  Dari ruang tunggu doa-doa Vero tak henti-henti ke luar dari mulutnya. 

Satu minggu berlalu, keadaan Robin masih saja koma. Vero hanya bisa melihat Robin yang terus tertidur tanpa gerakan. Hanya detak jantung dan pompaan nafas yang menggerakan dadannya. Suara mesin penditeksi terdengar menakutkan,  Vero semakin gelisah dan menyentuh tangan Robin yang terbungkus kain pembalut luka.  Dengan sedikit menyentuh, gerakan tangan Robin membangunkan Vero dari tangisannya.  Tampak senyuman mengiasi barisan kata maaf yang terus ke luar dari mulut Vero.

Suara sirine panjang membuka mata Robin yang berair dan tampak begitu sesak. Seakan ingin mengungkapkan cintanya pada Vero. Tiba-tiba badannya melemah, sirine pannjang pertanda bahaya terngiang. Dokter-dokter bedatangan, Vero dipaksa ke luar oleh para perawat. Usaha dokter untuk memulihkan keadaannya terlihat jelas dari mata Vero yang berair.

“Maaf hanya ini yang bisa kami lakukan! Jantungnya begitu lemah! Saudara Robin sadah meninggal!”  dokter berusaha menenangkan Vero.

Vero menatap tajam dan kosong.  Tak ada lagi Robin yang selama ini selalu bersabar menghadapi sikapnya yang selalu menang sendiri. Tidak ada lagi yang mengatakan kata-kata sayang dan melucu di depan Vero. 

“Yank!!!!!” 

Teriak Vero menyambut pelukan pada jasad Robin yang begitu dingin. Vero menangis dan memohon pada jenasah robin.

“yank! Peluklah ku satu kali ini jak yank! Penggang rambutku! Bilang kalau cayank, sayang sama Ve! Jangan tinggalin Ve, Yank! Bangun! Ve, sayang sama cayank! Cium lagi kening, Ve!”  Histeris Ve.
Vero pinsan dalam pelukan tersebut, cinta sejati sudah terlambat untuk diselamatkan. Egois dan amarah kedua pasangang ini terpaksa memisahkan mereka begitu jauh dengan kematian.

Selasa, 29 November 2011

Cerpen "Tangisan, Fikri untuk Ibu!"


Namanya Fikri, dulu dia pernah bersahabat dengan bangku sekolah dasar. Namun, beban ekonomi keluarga yang hidup pas-pasan membuatnya terpaksa  menghentikan cita-citannya. Ayahnya sudah lama meninggalkan mereka, kata orang ayahnya sudah menikah lagi di Malaysia. Sedangkan ibunya harus bergelut dengan dengan tumpukan sampah untuk mengisi perut. Hampir setiap hari fikri bersahabat dengan bau busuk dan tanah yang  becek. Nyanyian lalat-lalat sudah menjadi hal yang biasa. Setiap hari beban dua puluh kilo memenuhi keranjangnya. 

Gancu di tangan kanan, handuk melingkar di leher, dan kain usang menutupi separuh wajahnya. Fikri membalik satu per satu sampah-sampah bersama beberapa orang pemulung lainnya. Setiap hari ia menghasilkan sekitar lima belas ribu rupiah dari hasil keringatnya. Tak pernah terlintas untuk makan-makan mewah seperti para saudagar. Tak juga terlintas dari didikan orang tuannya untuk menjadi seorang peminta-minta. Urat-urat kasar bersama kulit yang kian melegam menghapus cita-citanya menjadi orang kaya. 

Satu tempat yang menjadi sahabat dan rumahnya adalah bangkai bus bekas tabrakan yang berada di sekitar tumpukan sampah. Fikri dan ibunya sering melepas lelah melewatkan matahari yang begitu ganas menerjangnya. Hujan badai yang membuat ulat-ulat sampah menari-nari di kaki kumuh itu. Tak sempat hidung menghirup wewangian, rasa pengap, sesak nafas, dan suara batuk ibunyalah yang sering ia dengar.
Fikri menyandarkan badannya di pintu bus yang karatan itu. Ia meluhat para pemulung tak kenal lelah mengorek-ngorek sampah. Adapula di antara mereka yang bertengkar karena lahannya diambil orang lain. Tidak jarang terjadi perkelahian di sana. Siapa yang berkuasa, dialah yang akan merauk hasil lebih. 

“Bu! Fikri ingin jadi orang pintar!”  ujarnya sedih.

Ibu menatap fikri yang sedang melamun dan memberikan senyum lasu. Tak sanggup mulut berbicara lagi, ibu memisahkan sampah-sampah sesuai dengan jenis sampahnya. Terpancar ketidakberdayaan dari wajah ibu yang terus beraktivitas. Doa-doa tertancap dalam dan terasa bosan untuk diungkapkan lagi. Bertahun-tahun semua masih saja seperti sedia kala. Hanya tangisan tanpa air mata yang menjawab doa-doa itu. 

Fikri memejamkan matanya, wajahnya tersenyum manis bersama tiupan angin sepoi-sepoi. Sebuah mobil mewah mengatarnya ke sebuah sekolah. Ia melihat ibunya yang tampak rapi dan berkerudung penuh cahaya. Fikri mencium tangannya dan berlari menuju sekolah itu. Di sana ia melihat seorang guru sedang mengajarkan materi pelajaran.

“Ayo! Siapa di antara kalian yang punya cita-cita menjadi seorang dokter?”  Guru bahasa Indonesia mengajukan pertanyaan.

Semua murid-murid berebutan mengankat tangan mewakili cita-citanya. Fikri berdiri di atas bangkunya dan terus berteriak mencari perhatian gurunya.

“Pak! Pak! Pak! Saya mau jawab! Saya mau jadi dokter!”  Fikri terus berteriak.

“Ha! Fikri!!! Kenapa kamu mau jadi dokter?” Guru menanggapi fikri.

“Fikri mau bantu orang yang di kampung! Pak!”  jawab Fikri.

“Nah!! Itu ide cemerlang Nak! Bapak senang sekali kamu mempunyai pikiran yang amat mulia seperti itu!”  tanggap guru.

Kebahagiaan terlintas dari wajah Fikri. Ia menceritakan cita-citanya di hadapan teman sekelasnya dengan penuh rasa kagum. Rentetan mimpi menjadikannya dewasa dan berjubah seorang dokter. Rasa dendam akan kebutuhan ekonomi menjelma lagi dalam khayalannya. Kemarahannya mencuak setelah membayangkan sikap para tetangga yang mengucilkan mereka sebagai orang kecil. 

“Fik! Ayo !!!”  Ibu menyentuh bahunya.

Fikri terkejut dengan sentuhan yang membangunkan tidurnya. Kembali terhirup bau sampah yang kian merusak jaringan pernafasan. Jantungnya yang berdetak kencan memaksa matanya untuk menatap kosong pada tumpukan sampah itu. Ia marah pada cita-citanya, ia marah karena semua hanya berlangsung dalam mimpinya. 

Pernah suatu ketika Fikri tidak ikut ibu untuk mulung di TPS.  Ia sering melintasi Sekolah Dasar yang pernah ia duduki beberapa tahun silam. Keceriaan siswa sekolah dasar dengan seragam yang baru membuat hatinya penuh dengan keirian. Satu hal yang membuat Fikri sangat tertekan adalah ketika orang-orang menghindarinya karena dia hanya anak seorang pemulung. Mereka bilang Fikri anak yang jorok dan bau. Mereka takut Fikri adalah anak yang penuh dengan kumal.

Ada satu kebiasaan yang mewakili semangatnya menjadi seorang jenius. Fikri selalu mengumpulkan koran-koran dan terus belajar membaca. Walaupun terkadang ia harus bertanya pada penjual cendol di sekolah itu. Tanpa rasa sombong si penjual cendol menjadi guru membacanya setiap hari. Penjual cendol itu meminta Fikri untuk membeli buku-buku pelajaran untuk dibaca. 

“Kalau mau pintar itu kita mau belajar buka mau ke sekolah! Sekarang kamu beli buku pelajaran! Kamu pelajari semuanya sambil mengumpulkan uang untuk daftar sekolah lagi!”  nasihat penjual cendol.

“Iya bang! Bantu Fikri yah! Fikri mau jadi orang pintar biar bisa beli obat untuk Mama!”  dengan polos.

Setiap hari saat Fikri istirahat mengumpulkan sampah, Fikri sempatkan untuk menemui penjual cendol itu untuk belajar membaca. Hari demi hari semangat Fikri menjadi orang pintar tampak ketika ia sudah bisa membaca dan menulis.  Sesuai arahan si penjual cendol, ia menulis sebuah novel yang mengisahkan kehidupan ekonomi dan cita-citanya yang terkandas. 

Dua bulan berlalu, Fikri menemui si penjual cendol. Ia membawa tumpukan kertas bekas yang berisi novel buatannya. Si penjual cendol hanya tersenyum mengejek padanya. Tumpukan catatan itu tak dihiraukan oleh si penjual cendol. 

“Bang! Bacalah! Fikri mau jadi penulis biar dapat uang untuk beli obat!”  sambil menarik-narik baju si penjual cendol.

“Abang nda suka baca-baca! Abang sibuk! Lain kalilah yah!” kata si penjual cendol.

Fikri tak bisa memaksakan kehendaknya. Kemarahan meluap dari wajahnya yang mengeram masam. Ia menghempaskan kumpulan catatan yang ia ciptakan selama berbulan-bulan itu. Fikri berlari kencang melintasi pasar sambil menangis. Langkah kakinya berhenti di bangkai bus tempatnya mendapatkan banyak inspirasi ketika ia sedang gudah.

semua manusia sama saja! Tukang cendol, tetangga, semua orang sama saja! Tidak ada yang mau menghargai usahaku! Katanya aku harus pintar membaca dan menulis! Tapi, tulisanku malah ditertawakan! “  sewot Fikri sambil menyandarkan badannya.

“Fikri!!! Fikri!!!”  teriak seorang pria dari kejauhan.

Fikri mencoba menyimak dan mencari orang yang memangil-manggil namanya. Tidak salah lagi  tebakan hatinya, itu kakek Ramlan tetangganya. Ia pun bergegas menemui kakek tua itu. 

“Kamu harus segera pulang, Nak! Ibumu sakit!”  dengan terengah-engah.

Bulu kuduk Fikri berdiri garang dengan rasa was-was. Langkah seribu membawanya berlari sekencang-kencangnya. Dalam hatinya terngiang wajah ibu tercinta, kasih sayang, dan perhatian ibunya. Sesampainnya di rumah Fikri terkejut melihat orang-orang telah ramai di halaman rumah mungilnya. Tangisan mendera matanya dalam debaran jantung yang kehilangan. 

“Nak! Ibumu sudah tiada!”  seorang ustad menahannya dengan nasehat.

Fikri berontak, ia berlari mendekati ibunya yang telah terbujur kaku. Ia memeluk ibunya, menciumi kening dan mengusap pipi ibunya yang pucat. Badan yang dingin membuat Fikri histeris dan merasa kehilangan semua yang ia miliki selama ini. 

“Mak! Bangun, Mak! Ini Fikri Mak! Fikri udah belajar mak! Fikri mau jadi orang pintar! Fikri janji belikan obat untuk, Mak! Banguuuuuu, Mak!”  histerisnya.

Suara-suara orang mendoakan ibunya membuat Fikri semakin tertekan. Ia tetap tidak terima ibu kesayangannya sudah tiada. Bayangan tentang kesendirian di hari esok membuatnya sangat tidak berdaya. Fikri terus histeris sampai terbaring tak berdaya di samping jenazah ibunya. 

Empat jam berlalu, orang-orang membawa jenazah ibunya untuk di makamkan. Fikri terus mengikuti hingga sebuah lubang mengakhiri pandangan Fikri. Wajahnya murung dan terus memeluk batu nisan. Ia teringat akan suapan-suapan kasih sayang dari ibunya, nyanyian serta pelukan hangat saat tidur. Fikri teringat akan kerannya betis ibu yang bekerja keras membesarkannya. 

“Mak! Mak! Bangun mak! Emak pulang! Temankan Fikri di rumah, Mak! Fikri nda bisa sendiri. Fikri takut, Mak!”  ucap Fikri berulang-ulang.

Tepukan telapak tangan menimpa bahunya. Seorang pria berambut gondrong bertopi duduk mendekatinya. Fikri tak pernah bertemu dengan sosok pria yang tersenyum merangkulnya erat. Pria itu memberikan nasehat padanya hingga ia merasa kuat.

“Kamu lihat ini?”  pria itu menunjukan kantong plastik.

“semua ini mahal hargannya, Nak! Ini tulisan termahal yang pernah saya temukan!”  ia menunjukan tulisan Fikri yang sudah ia buang.

“Ambil saja semuannya, Om! Fikri sudah tidak perlu itu lagi! Fikri hanya perlu Emak!”  sambil melelehkan airmata.

“Om akan terbitkan catatanmu, Nak! Mulai hari ini, kamu tinggal di rumah om”  lanjut pria gondrong itu.

Fikri tak sanggup menolak ajakan itu. Sambil menoleh dan enggan meninggalkan makam Fikri mengikuti pria itu. Setelah enam bulan berlalu, sebuah buku berisi catatan Fikri terjual. Fikri diangkat menjad anak oleh pria yang ternyata adalah penulis buku di salah satu penerbit besar.

(CERPEN DI WARUNG KOPI INDOR PONTIANAK)