Siapa aku, bagaimana aku mengartikan cinta yang sesungguhnya? Aku tak
pernah mengerti sebuah game yang di sebut cinta ini. Penuh dengan trik,
penuh dengan misteri, bahkan sulit untuk di tebak atau di reka-reka.
sudah tiga tahun lamanya Rey dan Wina menjalin hubungan. Diawali
pertemanan, hingga semakin tumbuh bak bunga mawar yang selalu dijadikan
andalan bagi pria untuk meraih perhatian wanita.
Hari berganti hari. Saling mengunjungi dan bercumbu seperti semut yang
selalu menyugukan keningnya setiap bertemu. Mata Wina terpejam merasakan
hangatnya nafas Rey yang melekat di keningnya. Tanpa perintah langsung,
ke dua tangan Wina merangkul tubuh macho Rey yang membalasnya dengan
dekapan yang begitu erat.
Berjalan bersama, berbagi cerita,
tertawa, bahkan dalam tangispun Rey selalu hadir membawakan sebongkah
ice cream demi senyum Wina yang indah. Lesung pipinya yang melukis
wajahnya bak monalisa yang tak terhapus waktu. Menjelma dalam
sugesti-sugesti yang mencurahkan bibit-bibit rindu ketika tak berama.
Itulah yang selama ini Wina rasakan. Kenyamanan, perhatian, dan kasih
sayang yang membuat Rey berbeda dari pria-pria yang Wina temui. Saking
takutnya, Wina selalu bertanya
"kamu di mana?"
"lagi apa, Rey?"
"udah makan?"
"Rey, Jangan tinggalin Wina yah"
itulah yang sering di ucap Wina baik lewat pesan singkat, maupun lewat telp.
***
Memang hubungan yang begitu akrab tidak menjamin suatu kepuasan bagi seorang Rey, pria tampan bak arjuna bagi Wina.
Itu jawaban yang di terima oleh Wina ketika ia bertanya.
"siapa Jes itu Rey?"
Sikap bungkam yang dipancarkan dari wajah Rey mengisyaratkan bahwa Jes adalah kekasih yang baru Rey kenal beberapa minggi ini.
Tidak ada yang bisa Wina lakukan. Ia tak bisa marah, hanya tergelam
dalam kecembuaruan yang membuatnya sering meneteskan airmata di kamar
mungilnya. Terkadang ia berpikir untuk mengakhiri hubungannya. Namun, ia
tak sekokoh benteng cina, tak setegar hercules, hanya Wina yang tak
berdaya. Apalagi setelah pernyataan yang menarik urat sarafnya hingga
melelehkan air matanya.
"Maaf, Aku sayang ma dedek. Beri aku waktu untuk memikirkan bagaimana caranya meninggalkan Jes tanpa menyakiti hatinya"
Mendengar itu, Wina harus berabar jika harus memiliki Rey yang sudah
menjadi mimpi IMAM hidup baginya. Sosok suami yang amat di impikan
selama tiga tahun itu telah berbagi perasaan padan wanita lain.
***
Sudah 3 bulan berlalu. Tak ada perubahan, bahkan Wina pernah melihat
Rey dan Jes berjalan berdua di sebuah caffe bola. Pemandangan itu
membuat Wina sangat putus asa dengan keadaan yang terus meyiksa
sanubarinya.
"maaf Rey, Kita putus saja" ungkap Wina.
"Kenapa dek? Please, kamu jangan lakukan itu, aku tidak bisa tanpa kamu dek.Beri Rey waktu" bela Rey. Wina menangis
"sampai kapan Rey?" tanya Wina tak sanggup menahan tangis.
"Jujur yang paling Rey sayang cuma Wina. Tapi, sikap Dedek yang selama
ini terlalu protektif. Melarang ini dan itu, Dedek Juga suka marah-marah
tidak jelas. Rey cuma ingin Wina berubah" ungkap Rey membela diri.
"kenapa tidak bilang dari kemarin mau Rey apa?" Wina menjawab terbata-bata.
"Karna Dedek nda pernah mau mendengar apa lagi mengalah untuk semua bimbingan Rey selama ini" ungkap Rey.
Wina mengakhiri pembicaraan itu dan membayangkan semua pernyataan Rey
selama hubungan mereka terjalin. Wina baru ingat, ternyata setiap
pertengkaran kecil yang sering terjadi tidak sepenuhnya di maafkan oleh
Rey. Semua ia pendam dalam kesabarannya.
***
ke esokan
harinya. Rey menemui Wina di kantin kampus. Keduanya tak seperti biasa
saling memberikan ciuman di kening atau memegang jemari.
Di
kantin itu Rey menceritakan. bahwa selama ini Jes lah yang selalu
menjadi pelariannya selama mereka bertengkar. Jes yang juga mencintainya
sejak dulu selalu ada untuk menenangkan dan mendengarkan semua curhat
Rey tentang Wina.
"untuk sekarang! Aku harus memilih Jes! kita sahabat saja Win! Semoga kamu mendapatkan yang lebih baik dariku"
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 26 Mei 2012
PRIA dan WANITA di RUMAH KOSONG (cerita hot) "NGAPAIN YAH???"
Di sebuah rumah kosong, sepasang kekasih sedang duduk berdua. Tidak
ada orang lain di sana. Hanya ada suara burung dan suara angin yang
mengibas daun pisang di sekitar itu.
***
Si pria memperhatikan bola mata si wanita yang sedikit merunduk malu (menampakan wajah manis ), Melihat respon postif itu, si pria langsung menggengam jemari halus dan menoleh ke kiri dan ke kanan. Si pria takut kalau-kalau ada orang yang sedang melihat aksi berikutnya.
***
Merasa aman, Si Pria menarik kepala si wanita agar menempelkan pipinya. Hum...si pria langsung menarik nafas panjang merasakan aroma tubuh wanita yang semerbak tanpa tanding itu. Si wanita tersipu dan merasa nyaman ketika si pria mulai menggodanya.
***
Si Pria melihat sela-sela yang dapat dijadikan bahan rayuan. Ia mulai memuji kecantikannya, halus kulitnya, terakhir mengungkapkan sebuah kata " aku sayang kamu" si wanita langsung merespon dengan gerakan verbal bersandar dalam pelukan si Pria.
***
Si pria melanjutkan aksinya. Menyentuh pipi dan mendekatkan wajahnya. Si Wanita merunduk malu tapi dalam hati terlihat menikmati skenario itu. Akhirnya si pria dan wanita terhanyut dalam cerita yang tak biasa itu.
***
Si pria dan wanta merasakan detak jantuk dan nafas yang tak bisa. Si wanita mencengkram erat-erat jemari si pria. Bandanya bergetar, matanya terbuka lebar dengan keringat di sekitar wajah (tegang)
***
Si Pria akhirnya membuka matanya yang terpejam dalam pelukan itu dan bertanya
"kamu kenapa sayang?"
Rupanya si wanita keringat dingin karena memegang sesuatu yang berbentuk seperti terong yang sedikit lembek itu.
***
Si Pria menegang, sedikit mundur dengan otot agak menegang.
"kita pulang yuk!" ajak si Pria.
"iya, ne Tai harus segera di cuci" ujar si wanita.
"iya, siapa yang boker sembarangan yah" tanya si pria.
***
akhirnya mereka berdua pulang.
***
Si pria memperhatikan bola mata si wanita yang sedikit merunduk malu (menampakan wajah manis ), Melihat respon postif itu, si pria langsung menggengam jemari halus dan menoleh ke kiri dan ke kanan. Si pria takut kalau-kalau ada orang yang sedang melihat aksi berikutnya.
***
Merasa aman, Si Pria menarik kepala si wanita agar menempelkan pipinya. Hum...si pria langsung menarik nafas panjang merasakan aroma tubuh wanita yang semerbak tanpa tanding itu. Si wanita tersipu dan merasa nyaman ketika si pria mulai menggodanya.
***
Si Pria melihat sela-sela yang dapat dijadikan bahan rayuan. Ia mulai memuji kecantikannya, halus kulitnya, terakhir mengungkapkan sebuah kata " aku sayang kamu" si wanita langsung merespon dengan gerakan verbal bersandar dalam pelukan si Pria.
***
Si pria melanjutkan aksinya. Menyentuh pipi dan mendekatkan wajahnya. Si Wanita merunduk malu tapi dalam hati terlihat menikmati skenario itu. Akhirnya si pria dan wanita terhanyut dalam cerita yang tak biasa itu.
***
Si pria dan wanta merasakan detak jantuk dan nafas yang tak bisa. Si wanita mencengkram erat-erat jemari si pria. Bandanya bergetar, matanya terbuka lebar dengan keringat di sekitar wajah (tegang)
***
Si Pria akhirnya membuka matanya yang terpejam dalam pelukan itu dan bertanya
"kamu kenapa sayang?"
Rupanya si wanita keringat dingin karena memegang sesuatu yang berbentuk seperti terong yang sedikit lembek itu.
***
Si Pria menegang, sedikit mundur dengan otot agak menegang.
"kita pulang yuk!" ajak si Pria.
"iya, ne Tai harus segera di cuci" ujar si wanita.
"iya, siapa yang boker sembarangan yah" tanya si pria.
***
akhirnya mereka berdua pulang.
Rabu, 11 Januari 2012
PANTAI MAMA
Sudah banyak bahasa yang ku
ucapkan, sudah letih telapak kaki mengikuti badanku. Matahari terus saja
menyengat hingga usang tapak jelas di kulit ari ku. Ku terus memacu semua
hasrat yang tersembunyi di balik sembilu di hatiku. Aku kembali lagi menulis
dan menulis, mengungkapkan semua keluh kesah dan mewakili semua perasaan yang
tersembunyi di balik senyumanku. Satu prasasti ku kenang, ku ukir dibalik
lumpur hitam di dekat rumahku. Di
sanalah aku mengijakkan kakiku yang dulu gemuk walau sedikit retak di sela
telapak kakiku akibat kutu air.
Saat aku melangkah kencang, aku
mendengar suara tawa ciptaaNYA yang lain. Ada yang sedang mengisap sebatang
rokok, menghirup kopi yang menangis di dalam cangkir. Ada juga yang sibuk
bercanda dengan pasangan-pasangan mereka.
“Mita!”
seorang ibu
berusia 35 tahun memanggilku. Aku berhenti, enggan kedua pasang mataku untuk
melirik ke sisi lain. Aku merasakan rasa gelik dari tawa-tawa mereka yang
sedang memandangiku penuh kegelian. Aku hanya diam saja.
“Suruh
ibumu ke mari! Ada sisa makanan di dapur! Sayang kalau tidak di makan!” lanjut ibu itu.
Ku jawab dengan senyuman lalu
berbalik arah menapaki jalanan yang terasa menyengat di telapak kakiku. Ku
terus menerpa angin, terus berlari, sembilu di punggungku menagis, bilur-bilurnya
mengering, darah ku menempel erat di punggungku. Ku hempaskan badanku dan
menerawang gugusan awan putih. Debur ombak pantai, suara kicau burung,
tarian-tarian keong, serta buih-buih laut yang menambah indah nuansa pantai.
Sejenak aku terbawa dalam
lamunan, wajah ibuku menari-nari, tatapan matanya begitu tajam meneriaki
lamunanku. Gelembung air mata perlahan merayap dari ujung mata. Ku remas
gumpalan pasir putih yang ku genggam, jejarum hujan menabrak wajahku sedikit
demi sedikit. Inilah yang ku rasakan setiap hari, mungkin sampai waktu akan
berhenti berbincang tentang ibuku. Meneriaki kutukkan yang ku terima dari
mereka.
Aku bangkit melihat gulungan
ombak di pantai itu. Perlahan debur ombak menyapa telapak kakiku. Ingin sekali
aku mengajak ibu di sini seperti dulu. Berlari-lari bersama ayahku yang paling
aku cintai. Ayah! Seorang ayah kebanggaanku yang pergi menginggalkanku dan ibu.
Ayah yang rela menikah lagi dan membiarkan kami memakan nasi sisa dari rumah
makan yang tidak jauh dari gubuk tua itu. Di samping gudang tua, jauh dari
manusia-manusia yang mengucilkan ibuku.
Sejak kecil aku di sebut anak
pelacur, Anak perempuan nakal, dan anak haram, tapi dia ibuku. Ibuku yang
paling sayang padaku, ibu terbaik dari keindahan pantai ini. Ibu yang selalu
memberiku makan, ibu yang memukuli punggungku hingga begini. Aku cinta pada
Ibu! Dia penyelamatku ketika orang-orang melemparinya dengan kutukan, ketika
orang melempari kami dengan batu, ingin membakar kami dengan api. Ibu yang
memelukku, dia pahlawan yang luar biasa.
Sejak peristiwa itu terjadi.
Ayahku tidak membela, ia malah pergi jauh meninggalkan kami. Ayah yang malah
mengajakku turut meninggalkan ibu dalam keadaan sakit. Mereka memang perduli
padaku, tapi mereka tidak perduli pada keadaan ibu. Mereka memintaku
meninggalkan ibu karena takut aku terjangkit penyakit kutukan. HIV kata mereka,
Ibuku terjangkit penyakit menular karena menjadi pelayan para pria hidung
belang di sebuah hotel berbintang.
Sudah dua tahun peristiwa itu
berlalu, tapi tak sedikitpun terhapus dari ingatanku. Tuhan bilang padaku, Ibu
adalah malaikat penolong, surga ku ada di telapak kaki ibu. Aku tak mungkin
menginggalkan ibu walau ia terus memarahiku, mengusirku, memukul sekujur
tubuhku, sampai mengusirku dengan sebilah rotan. Luka-luka ini tidak seberapa
jika dibandingkan luka yang ibu rasakan.
Aku berdiri, perlahan langkah
kakiku menapaki hamparan pasir putih mendekati gubuk tua di tepi pantai. Aku
mendengar ibu merintih kesakitan, ia menghapus luka yang semakin bernanah di lengannya.
Rambut ibu yang semakin rontok, semakin tampak tua oleh penyakit itu. Dengusan
tangis ibu bagai doa-doa yang tak mungkin ada jawaban. Perlahan aku duduk tepat
di pintu gubuk sambil menatap pantai tanpa penghuni itu. Rasa sayang ibu
tertancap dari mulutnya, ia kembali menyurukku pergi menemui ayah dan tinggal
bersama mereka. “Kamu akan tertular kalau
bersama ibu! Pergilah!!” kata ibu
lagi padaku.
Linangan air mataku menjawab
kata-kata ibu. “Mama! Cukuplah mereka
yang meninggalkan, Mama! Janganlah anakmu ini kau usir pergi! Tak ada yang bisa
anakmu lakukan selain menjagamu, Mama!” aku berdiri dan mendekati Ibu.
Air mata yang sudah mengering
terus terpancar dari mata ibu yang selalu memerah. Dari wajah ibu terpancar
rasa ingin memelukku dengan erat. Namun, ia hanya bisa mengacungkan rotan agar
aku tidak mendekatinya. “Mita! Mama
terkutuk! Bahkan sampai raga ini tak bernyawa lagi! Mungkinkah ada seseorang
yang berbaik hati yang bersedia memandikan jenasah terkutuk ini! Atau
menguburkan bangkai busuk seperti ini”.
Perkataan itu membuatku berhenti
sejenak. Gulungan pantai membawa derasnya air mataku yang tak bisa ku tahan
lagi. “Mama! Aku anakmu, Ma! Biarlah tangan ini yang akan membasuh sekujur
tubuh, Mama! Biarlah badan kecil ini yang akan menguburkan jenasah Mama! Aku
masih bisa melakukan itu!”
Mendengar ucapan ini, ibu
melempariku dengan sebilah rotan di tangannya. Tak mau membuat ibu sedih dengan
keberadaanku. Aku berlari sekencang-kencannya menyusuri pasir putih sambil
berteriak di dalam hati. Ku tatap langit yang mendung kehitam-hitaman, dalam
secarik kertas itu kutulis nama ibu yang paling ku sayangi. Ku ikat dalam
sepotong kayu dan menghanyutkannya di pantai ini. Aku berharap Tuhan akan
membaca nama ibu dan mendengarkan semua keluhan ibu, keluhanku, dan memberikan
sedikit keceriaan pada kami berdua. Aku
tahu, Tuhan ada di mana-mana! Aku tahu, esok atau lusa ibuku tercinta akan
kembali menemaniku menapaki pantai yang penuh dengan cerita ini.
Selamat jalan untuk hari ini, aku
harap engkau jangan pernah kembali sebelu ibuku kembali tersenyum manis seperti
dulu. Dia tahu ibuku adalah pelacur, Dia juga tahu kenapa ia mengutuk ibu
seperti ini. Jawaban atas resah ini hanya satu, kenapa ibuku harus rela menjadi
pelacur? Ibu menyayangi kami, dan hanya nafkah haram yang membuatku berdiri
tegar di atas pasir putih.
Minggu, 04 Desember 2011
PERAHU KERTAS
Jika ada yang bertanya “kenapa
aku masih tetap berdiri di sini?”
.Aku akan menjawab, “karena hujan belum berhenti untuk mengintaiku dengan siramannya. “
Jika ada yang bertanya padaku, “kenapa kamu masih duduk di situ?”
Aku akan menjawab dengan hatiku, “karena aku masih penasaran kenapa bumi
mengembalikan hujan yang turun dengan pantulan yang indah”
Dalam hatiku mengalir jiwa seni, “aku sebenarnya merasakan begitu dingin
hujan yang memcakar
wahahku! Tapi di dalam kelabunya hari aku tetap tentang dan
merasa bahwa hari ini adalah hari yang panas! Suhunya juga ku anggap sebagai
ketenangan yang ku sembunyikan”
Hujan semakin deras,
aku penasaran pada genangan air yang menari-nari seakan sedang terbebas dari
ketakutan. Awalnya ia amat takut ketika langit menghujamkannya ke bumi. Namun,
ketika ia sampai di bumi. Mereka seakan melantunkan musik-musik dan terompet
tahun baru seperti manusia-manusia. Ada di antara mereka yang menerpa genteng,
seng, kaleng, tanah, dan gedung-gedung. Keributan itu pertanda kebahagiaan bagi
mereka.
Sambil
mengoyang-goyangkan tanganku di atas kubangan, aku melihat mereka berebut
menyetuh tanganku yang penuh dengan kotoran. Mereka membersihkannya, “mungkin
ini adalah pekerjaan mereka!”bisik hatiku.
Hujan semakin deras,
senyumku semakin terbawa ketika melihat cahaya matahari yang mereka tutupi. Dalam
hatiku girang bicara, sebentar lagi genangan air ini akan semakin dalam. Aku
pun bergegas menuju kamarku dan mengambil beberapa helai kertas putih. Ku lipat
menjadi perahu-perahu kertas yang berwarna-warni. Ku letakkan di atas kubangan
air itu, mereka terus membuat perahu itu terombang-ambing gelisah. Aku tertawa,
aku melihat diriku sebagai nakoda dalam perahu itu.
Lima menit aku terus
memandang perahu kertas itu, tak ada satupun ombak yang mampu menerjangnya
hingga tenggelam. Dengan penuh rasa penasaran, aku membuat arus menjadi lebih
kencang. Perahu itu terpukul hingga pinggirnya menelan air dan menenggelamkan
kertas itu. Aku puas, itulah aku. Jika nanti aku akan tenggelam dalam
kepuasan-kepuasan orang lain pasti akan menjadi kebanggaan bagi mereka. Tak ada
yang mau perduli tentang bangkai kapal itu.
Aku pun meniggalkanya
perlahan sambil menoleh bangkai kapal yang tampak sedang menangis. Air
mataku pun turut menyempurnakan senyuman kekesalan itu. Ketika ku tiba di pintu
kamarku, gerak badanku begitu prihatin. Aku pun berlari dan mendekati kapal
itu, ku ambil dengan kedua tanganku. Di sana masih ku baca ada namaku dan
namanya walau sudah hampir terhapus waktu yang penuh tantangan.
Ku tiup dengan kipas
angin sambil menopang kedua tanganku di pipi. Tiupan angin itu ternyata mengoyak nama yang
tersimpan dalam perahu itu. Namaku di pisahkan dari namanya, aku gelisah. Akal
sehatku mencari setrika dengan harapan kertas itu akan mengering oleh panasnya.
Ku simpan perahu itu di atas meja yang dilapisi dengan kain sutra berwarna
putih. Kilasan kipas membakar air menjadi uap yang panas dari kemarahannya.
Perahu itu berteriak menahan siksaan itu.
Setelah tampak
mengering, aku terkejut melihat perahu itu. Warna merah yang menghiasi namaku
dan namanya berubah menjadi merah muda. Warnanya telah memudar menampakan wajah
sedih penuh beban. Hatiku dipenuhi penyesalan yang dalam, ku coba menarik
bagian-bagian kertas itu agar kembali menjadi sebuah perahu kertas. Namun, hal
itu tak pernah terjadi. Unsur-usur itu telah berpelukan ketika kipas
menindihnya kesakitan. Namaku dan namanya telah berpelukan dan rela mematikan
dirinya demi kepuasan orang lain.
Sambil menyandarkan
badanku di kursi belajarku. Ku balut perahu itu dengan kasih sayang, ku ambil
lagi spidol warnaku. Aku coba menerangi namaku dan namanya sehingga tampak
indah. Dua jam memandang dengan cinta, ku ucap permintaan maafku pada perahu yang
sedang menangis itu. Aku melihatnya tersenyum dalam warna yang kembali cerah.
Aku pun duduk di atas tempat tidur sambil menatap kosong.
Suara degup kaki
terdengar girang mendekatiku. Ia mengambil perahu kertas itu dan membawanya
lari. Ku kejar namun aku takut si kecil itu kembali merusak modelnya atau
merobek-robek namaku dan namanya. Aku terkejut, perahu itu terlempar lagi ke
luar jendela. Arus got menghanyutkannya begitu deras. Lompatanku terus
mengejarnya, tak ku hiraukan hujan yang membasahi sekujur tubuhku. Air mataku
mengalir bersama air hujan, bibirku bergetar, mataku yang memerah terus mencari
dan mengejar arah arus yang melarikan namaku dan namamu.
Badanku basah kuyup.
Perahu itu terbawa arus hingga ke air sungan yang besar. Aku hanya bisa berdiri
di atas jembatan dan melihatnya mengambang dengan lambaian kesedihan. Aku
berteriak kencang dalam hatiku.
“Kembalilah!
Aku berjanji tidak akan menyia-nyiakanmu!”
Ia tak mendengarku
lagi. Ia semakin kecil dan tenggelam dalam jarak yang semakin tega meneteskan
air mataku.
Matahari petangpun
terpancar dari arah depan. Ku rasakan hujan tak menyapaku lagi. Tatapan ku yang
kosong tak lagi berair, aku pulang dengan penuh sesal. Aku berjanji pada dunia,
akan ku buat perahu-perahu yang lebih banyak lagi untuk namaku dan namanya.
Sebab, satu perahu tak akan sanggup memperkuat cintaku padamu.a
Jumat, 02 Desember 2011
HARUSKAH KU SALAHKAN TAKDIR?
Beberapa bulan kami menjalin hubungan akhirnya aku merasa sangat nyaman berada disampingnya. Rasa rindu akan aroma badan dan tatapan matanya yang amat ku hafal. Hal yang membuatku sangat bangga adalah ketika Frengky membuktikan cintanya dengan melamarku menjadi istrinya. Rasa girang itu ku sambut dengan riang, pria mapan yang amat ku harapkan siap menjadi imam bagiku sudah ada di depan mata.
Kami pun menikah dan setelah beberapa bulan, aku hamil. Aku dan Frangky sangat bahagia. Setiap aku tidur Frenky selalu memegang perutku, bahkan untuk mencuci pakaian saja dia rela. Aku sangat girang dan bangga mendapat suami yang amat perhatian padaku. Frenky adalah pria yang sangat sabar, walau sering emosiku menanjak dia selalu membuatku tersenyum.
Selang lima bulan aku mengandung, dia mulai sibuk dengan pekerjaannya. Dia sering pergi ke luar kota untuk survey lapangan. Sebagai seorang istri, aku harus mendukung profesi suamiku. Hari-hariku semakin berat ku lewatkan, kandunganku semakin besar dan amat terasa kerinduan yang padanya. Awal kepergiannya, dia sering sekali memberiku kabar bahkan menanyakan keadaanku. Tapi entah kenapa setera beberapa bulan berlalu aku jarang mendengarkan kabar darinya. Sering aku menghubunginya, namun selalu saja sibuk dan terdengar sedikit emosi.
Usia kandunganku pun memasuki masa-masa akhir. Rasa panik dan rindu kehadiran suami tercinta selalu membuatku menangis. Ketika malam tiba, aku mulai meresah merasakan tendangan dari bayi mungilku. Aku tidak bisa duduk atau berdiri, tendanga itu terasa begitu ganas menyentuh dinding rahimku. Ku pangil-pangil nama Frenky dalam doa. Ku memintanya pulang dalam air mata, namun semua hanya doa-doa semu. Hanya harapan yang sia-sia. Darah membasahi celanaku, keluargaku tampak panik dan segera membawaku ke rumah sakit bersalin.
Aku pun melahirkan seorang putra yang mirip sekali dengan Frenky. Aku berusaha menelponnya, tapi tak ada yang menjawab. Rekan kerjanyapun tampak menyembunyikan keberadaannya. Aku sadar, suamiku sedang mempermaikan perasaanku. Sebagai wanita aku hanya bisa memeluk bantal dan menutup pintu kamar. Menungu dan terus menunggu ia datang memeluk dan membelai rambut bayiku hingga ia tertidur.
Anakku berusia dua tahun, Frenky benar-benar tidak ada kabar. Ku berdiri di tepi sungai yang mengalir lembut. Aku bertanya pada air yang mengalir sampai tetesan air mataku menentuh riak air. Aku ingin tetesan air mataku terbawa arus hingga suamiku dapat menghirup kerinduanku hingga raganya. Sentuhan lembut tanganku berusaha menyejukan tangisan bayiku yang mulai gelisah dan tak mengenal Ayahnya. Aku tak berdaya untuk mengajarinya berbicara. Aku pernah melihat bayi mungil dalam pelukan orang tuannya. Mereka mengajarinya menyebut "MAMA" setelah itu " PAPA" tapi bagaimana?
Dua tahun berlalu, rasa putus asa pun timbul dari hatiku. Aku memutuskan untuk menceraikan suamiku. Aku merasa menjadi perempuan bodoh yang selalu menunggu harapan yang tak pernah terjawab. Hanya cita-cita yang mencuakkan mimpi-mimpi yang tenggelam dalam kesedihan yang pahit. Dalam hatiku sangat menangis, melupakan seorang suami yang amat aku cintai adalah kepedihan. Ketika orang merasa tua dia selalu mengingat semua kenangan-kenangan yang pernah ia lalui. Tapi sekarang, usiaku masih muda aku berharap ada seorang pria yang tulus mencintaiku dan anakku. Aku butuh kasih sayang dari seorang suami yang serius. Aku tak sanggup menjadi dedaunan kering yang terkulai dan terinjak-injak tanpa daya.
Ada satu hal yang sangat menguatkan prisipku untuk menceraikan Frenky. Dia adalah sahabatku Vinno. Dia menjadi lumbung curhatku selam suamiku meninggalkan aku. Aku merasa nyaman setiap ku ceritakan semua keluh kesahku. Sampai suatu ketika, Vinno terus mendesakku untuk segera menceraikan pria tak bertanggung jawab seperti Frenky.
Hadirnya Vinno seperti malaikat bagiku. Ditengah rasa kehilangan yang begitu pahit, aku melihat wajah anakku yang lucu yang tentu sangat membutuhkan seorang ayah sebagai imam keluarga. Dengan harapan itu, ku bulatkan tekat untuk meceraikan suamiku. Itupun dipertegas oleh keputusan Vinno yang ternyata mencintaikku. Dia siap menerimaku apa adannya, perhatiannya pada putraku sangat luar biasa. Aku kagum pada sosok Vinno walau sebenarnya aku tidak percaya lagi pada kata cinta.
Aku dan Vinno pun menjalin hubungan cinta itu. Setiap hari kami selalu bersama, ketulusan Vinno kembali menguatkan dan membersihkan hatiku dari noda yang amat lekat dalam perasaan. Vinno mengajakku bertemu dengan orang tuannya, merekapun tampak cerah melihat kehadiranku bersama Vinno. Apa lagi putraku yang sudah sangat akrab dan menganggapnya sebagai seorang Ayah.
Hubungan kamipun semakin erat, sampai suatu malam aku siap menyerahkan semua yang ku miliki untuk Vinno. Cumbuan hangat ku rasakan darinya, dia sangat luar biasa. Aku sangat terlarut dalam cintannya, ya dialah sosok suami yang amat ku kagumi. Aku tidak perduli pada keadaan apapun asal tetap bersama Vinno. Indah matannya, lembut perhatiannya, serta tutur bahasanya yang membuat seluruh badanku enggan untuk menepis keberadaannya.
Hubungan kami berlangsung begitu indah. Tanpa kami sadari ternyata aku kembali mengandung. Aku sangat bangga walau status aku dan Vinno hanya sebatas pacar. Aku tidak memberitahu kedaanku pada Vinno, semua itu karena bahasa Vinno yang akan menikahiku dalam waktu dekat. Aku ingin memberikannya kejutan atas kehamilanku.
Haripun berganti, rasa riang terus terngiang ketika Vinno akan menggendong bayi munggil yang berada di perutku. Vinnopun mengajakku bertemu, aku di ajak bertemu dengan keluargannya. Betapa terkejut hatiku melihat wajah ibu yang dulu selalu memberiku belaian dengan kata-kata pujian. Melihat sikap orang tuannya, Vinno mengajakku ke suatu tempat yang sepi. Di sana ia bercerita kalau dia baru jujur mengatakan bahwa aku adalah seorang janda dengan satu anak. Keluarganya tidak bisa menerima keadaanku, apalagi mereka menilaiku sebagai seorang perempuan hina yang ditinggalkan suami.
Mereka menilaiku sebagai perempuan nakal. Kesimpulan itu sungguh mengejutkan semua perasaanku. Apalagi aku tahu bahwa aku sudah hamil. Aku membayangkan semua perkataan dan penilaian orang tua Vinno. Aku sangat sedih, air mataku menetes bersama air yang membuat dedaunan merunduk layu. Ingin rasanya aku berlari jauh dan tidak mengecewakan Vinno. Tapi, rahimku telah siap menunggu marga Vinno melekat dalam namannya. Dengan harapan Vinno memiliki pendapat dan bisa bertidak positif, akupun menceritakan kehamilanku padanya. Dia tampak riang sambil memberkan pelukan hangat padaku. Di sana aku tampak begitu kuat walau suasana keluarganya tidak menghendaki keberadaanku.
Bunga-bunga mekar di pagi hari, aku menatapnya setiap pagi sampai warnanya berubah menjadi kecoklatan. Ku tatatap telpon gengamku dan menghubunginya. Namun, nomornya tidak aktif lagi. Dia seperti menghilang ditelan bumi. Rasa benci dan cinta bercampur aduk, aku tidak bisa menyalahkannya tapi di satu sisi dia harus mempertanggungjawabkan kehamilanku ini. Ingin sekali aku bertemu dengan ke luargannya. Tapi, rasa malu menghentikan langkahku untuk mencarinya. Aku sangat mencintainya dengan tulus.
Semakin dia tidak ada aku malah semakin mencintainya. Rasa yang ku tuai bersama hujan deras ini membekukan hatiku yang sesungguhnya terlarut dalam kesedihan. Ku panggil-panggil, ku buai lembut wajahmu yang terpampang di samping ranjangku. Masih ku cium harum badanmu bersama udara. Tengkuk ku masih merasakan rayapan bibirmu yang membuat sekujur tubuhku bergetar. Ku teringat lagi tentang mata hangatmu yang terpejam dan harum nafasmu yang menerawang pori-pori hasrat bersamamu.
Rasa cinta yang tumbuh kian dalam itu memaksaku mencarimu dari sahabat-sahabatmu. Namun, dunia selalu memihak pada perih ku, tak satupun kabar yang menunjukan persembunyianmu. Dalam hatiku bicara tentang perasaanmu yang ku ragukan. Tangisan kumbang-kumbang, rayapan suara adzan dikala petang datang merangkul dan meremas isi hatiku dalam pasungan yang tak berharga.
Sering ku panggili namamu ketika ku makan, aku teringat suapan serta sentuhan jemarimu menghapus tetesan hujan yang membasahi keningku. Ku teringat ketika dagumu menempe dipundakku dan bercerita tentang harmoni. Tanpa ragu aku terbuai merasakan kehangatan bahasa-bahasa cinta yang kau taburkan. Ingin rasanya aku kabarkan semua pada dunia agar orang melihat cintaku bukan dari keterpurukan ini. Aku jga manusia yang membutuhkan cinta sejati. Kenapa saat aku terjatuh dan membutuh topangan, hadirnya Vinno malah membuatku semakin terjatuh menjadi keping-keping yang sulit ku rangakai.
Aku tak berdaya menghadapi semua ini. Aku juga tak ingin melihat Vinno terus-menerus tersiksa dalam kebimbangan. Aku memutuskan untuk mengugurkan buah hatiku bersama Vinno. Aku mengira Vinno akan menahanku untuk mengugurkannya tapi malah sebaliknya dia tersenyum seakan tidak perduli pada keadaan ku yang begitu perih.
Semenjak kejadian aborsi aku sering melamun, aku sering membayangkan bayiku dan tawa canda antara kami. Namun, kali ini aku ingin bicara pada dunia bahwa aku tidak sendiri dalam kesepian. Masih banyak di antara mereka yang sempat menangisi cintanya. Aku akhirnya mengiklaskan kepergian Vinno dan memilih untuk menjaga buah hatiku yang paling kusayang.
Kamis, 01 Desember 2011
cerpen “ROBIN KU SAYANG”
“cinta
yang bagaimana yang kamu maksud?” Vero geram
.
“Ow...
kamu tidak tau atau pura-pura lupa?” Robin menjawab kecewa.
“Hm...lihat
dulu diri kamu! Baru menilai orang!!!” Vero melangkahkan kakinya menjauhi Robin.
Robin
bergegas mengejar dan menarik pundak Vero. Merasa tidak tengang, Vero berusaha
menepis peggangan itu dan mendorong badan Robin. Matanya berkaca-kaca, wajah
memerah dengan tiupan nafas yang menggerakan kedua bahu naik-turun. Mata yang
menatap garang seakan mengancam Robin
dengan akibat yang selanjutnya akan terjadi.
“Ver! Dengar dulu yang ku
maksudkan!!! Harusnya kamu tidak menanggapinya dengan emosi begitulah! Justru
kita sama-sama cari permasalahannya! Bukannya marah, diam, trus pergi tanpa
kabar!” Jelas Robin.
“Yah... suka-suka akulah! Itu udah
kebiasaan aku, jadi terserah akulah!” menghindari pandangannya pada Robin.
“tapi ini Cuma masalah kecil,Yank! Kenapa
sih kamu egois begitu? Berpikir pakai logika sedikit kenapa?” emosi Robin meningkat.
“Oya.... emang selama ini kamu
pernah dengar atau ngalah? Jangan sok baiklah yah!!!” sinis.
“He.... jadi maksud kamu selama ini
aku nda pernah ngelakukan apapun? Apa kamu nda ingat semua yang ku lakukan buat
kamu? Pernah ku nyakitin kamu? Pernah ku jalan ma orang atau ngianatin kamu? Pernah
aku ngingkari janji ku sama kamu? .........(menarik nafas) sudahlah! Dengan membahas ini malah membuat
masalah kita semakin besar!” Robin menenangkan dirinya.
“Kamu selalu begitu! Mana pernah
mau ngalah! Ngelawan terus!!!” berusaha menghindari Robin.
“Yankk!!!! Kalau kamu pergi berarti
masalah ini tidak akan selesai! Itu sudah sering terjadi! Aku takut ada apa-apa
nanti! Ku tidak bisa berpisah dalam keadaan bertengkar seperti ini. Aku takut
ada akibatnya nanti!” Robi gelisah.
Vero
tidak mengindahkan nasihat Robin walau dalam hatinya juga berniat untuk
menyelesaikan masalah tersebut. Vero tetap saja tersus memaksa untuk pergi,
menolak tarikan Robin hingga Robin memaksa untuk duduk di atas motor tersebut.
Veropun tidak bisa berbuat apa-apa selain berpasrah dan tetap konsisten dengan
sikap dinginnya.
“Pokoknya kamu tidak boleh pergi
sebelum masalah kita selesai” kata Robin dengan tegas.
“Terserah kamulah!!!” Jawab Vero.
“Kenapa sih? Bicaralah kalau ada
yang kamu tidak suka!!! Jangan diam terus! Bagaimana bisa menyelesaikan masalah
kalau yang dihadapi diam terus!” jelas Robin.
“YA udah!!! Ku mau pulang!!” jawab Vero.
“Nda!”
“Aku mau pulang! Ngapa sih
nahan-nahan?”
“Pokoknya nda usah pulang sebelum
masalah kita selesai” Robin tetap menahan.
“Terserahlah!!!”
Robin
mengarahkan spion motor melihat wahah Vero yang amat kecut. Rasa kesal dan
bingung membuat Robin terasa hancur. Robin bukan seorang yang suka marah pada
orang lain. Dia tidak pernah memiliki musuh. Apa bila dia merasa ada orang yang tidak menykainya, dia
segera meminta maaf kepada orang tersebut walau ia menyadari kalau itu bukan
kesalahannya. Kedamaian itu indah, itu motivasi hidup Robin.
“Yank! Ku minta maaf udah
marah-marah tadi! Ku sayang banget sama kamu” Robin
menggengam tangan Vero.
Vero
tetap saja bungkam dan melemahkan tangannya tanpa respon. Vero menjual tampang
kusut dan semakin tidak perduli pada semua perkataan Robin. Merasa semakin
rumit pertengakaran tersebut. Dengan tarikan nafas panjang Robin turun dari
motor itu sambil menatap tajam mata Vero. Dengan sedik senyum ketulusan Robin
mempersilahkan Vero untuk pergi walau dalam hatinya begitu sakit.
Tanpa
menunggu atau berbicara sedikitpun Vero langsung meninggalkan Robin yang masih
berusaha menggapai Vero. Rasa sesal yang
dalam menyelami isi otak Robin malam itu. Perkelahian cinta dalam batinnya
semakin ganas. Peperangan antara cinta sejati dan keiklasan membuatnya tak
berdaya. Robin mengeluarkan sebatang
rokok dari kantungnya. Walau berusaha, pikirannya tetap terasa begitu berat dan
tidak tenang.
Sekitar
lima belas menit lamannya , Akhirnya Robin memberi suara pada motornya.
“Aku cinta kamu! Kenapa kamu tidak
pernah mau ngerti? Bukannya pacaran ini kita belajar saling memahami dan
melengkapi? Kenapa hanya masalah kecil dan aku merasa itu bukan salahku malah
kamu yang marah?” Motor berjalan santai menikmati malam.
“Apa ku salah meminta kamu memesan
nasi goreng di kantin itu? Padahal aku hanya meminta kamu memesannya! Tapi jawaban
kamu capek! Padahal posisinya aku benar-benar lapar dan sibuk mengerjakan
pekerjaan kampus kamu! Bukannya membantu malah jawaban malas dan sibuk dengan
Facebookmu!” semakin dalam terngiang di kepala Robin.
“Yank! Sampai kapan? Kamu tahukan
aku tidak pernah bisa jauh dari kamu? Berilah ku kekuatan untuk mendidik kamu
menjadi wanita yang bisa ku cintai dengan tulus hingga nanti! Aku tidak mau hubungan
kita berakhir! Ku mau kita belajar bukan bertengkar!” Robin
begitu kesal.
Kendaraan
semakin melaju kencang. Selipan motornya mewakili perasaan amarahnya yang tak
tersalurkan. Robin tidak bisa memarahi Vero karena perasaannya yang begitu
tulus. Semua emosi Robin dilampiaskan
pada kendaraan yang semakin lama semakin tidak perduli akan bahaya.
“Ok! Aku tidak akan hadir dalam
hidup kamu lagi! Aku nda akan ganggu kamu lagi , Yank! Maafkan aku! Mungkin
dengan begini ku bisa jauh dari kamu tanpa pikiran!” Robin memejamkan matannya.
Motor
semakin kencang melaju, sesekali mata Robin terbuka dan mengelak kendaraan yang
berada di depannya. Tapi melihat sikap Vero membuatnya kembali terpejam sambil
meneteskan air mata. Rasa berdebar dan was-was berusaha pergi dari otak waras
Robin.
Kendaraan
menjadi macet, suara sirine polisi serta barisan POLANTAS terus mengatur lalu
lintas yang semakin padat. Di tengah kepadatan itu tampak seorang pria yaitu
Robin. Kepalanya berdarah, wajahnya luka parah dan tulang pahanya tampak
memutih di luar kulitnya. Motor yang di kendarai Robin terlempar jauh
darinya. Dari saku jaket Robin terdengar
suara panggilan dari Handphonnya. Nada itu adalah nada khusus dengan suara Vero
yang terekam. Robin berusaha tersenyum puas sambil mengeluarkan darah. Alunan
lagu dari saku jaketnya mengantarkan wajah Vero yang tak akan ia temui lagi.
“Yank! Terima kasih untuk semua
kasih sayang kita! Untuk semua manja yang pernah ada! Mungkin ini lebih pantas
agar di antara kita tidak akan ada yang terluka lagi! Aku sayang kamu!” sambil menciptakan senyum.
Semakin
terasa begitu padat, orang-orang mengantar Robin ke Rumah Sakit terdekat.
Seorang Polisi mengangkat mengambil HP di saku Robin.
“Hallo selamat malam!”
“siapa?”
“Maaf saya Briptu Purwanto! Saudara
pemilik HP mengalami kecelakaan!”
“Siapa?”
“Robinsson! Saudari siapa?”
“Sekarang bagaimana, Pak? Keadaannya
gimana? Di mana sekarang? Apa dia baik-baik, Pak?...” Panik
Vero.
“Kita bertemu di rumah sakit
Yehuda! Kami sedang dalam perjalanan ke sana!”
Betapa
terkejut hati Vero melihat keadaan Robin yang terluka parah dan tidak sadarkan
diri. Terbayang dalam hatinya pertengkaran yang baru saja berlangsung. Vero tampak gelisah, menangis, menyesal
dengan semua perbuatan yang dilakukannya.
“Yank! Kenapa bisa begini?” dari balik kaca sambil menangis.
Dokter-dokter
begitu ramai dengan busana biru muda dan masker. Robin akan di operasi untuk
mengeluarkan pendarahan di otaknya serta memasukan tulang pahanya yang tampak
dari luar. Dari ruang tunggu doa-doa
Vero tak henti-henti ke luar dari mulutnya.
Satu
minggu berlalu, keadaan Robin masih saja koma. Vero hanya bisa melihat Robin
yang terus tertidur tanpa gerakan. Hanya detak jantung dan pompaan nafas yang
menggerakan dadannya. Suara mesin penditeksi terdengar menakutkan, Vero semakin gelisah dan menyentuh tangan
Robin yang terbungkus kain pembalut luka.
Dengan sedikit menyentuh, gerakan tangan Robin membangunkan Vero dari
tangisannya. Tampak senyuman mengiasi
barisan kata maaf yang terus ke luar dari mulut Vero.
Suara
sirine panjang membuka mata Robin yang berair dan tampak begitu sesak. Seakan
ingin mengungkapkan cintanya pada Vero. Tiba-tiba badannya melemah, sirine
pannjang pertanda bahaya terngiang. Dokter-dokter bedatangan, Vero dipaksa ke
luar oleh para perawat. Usaha dokter untuk memulihkan keadaannya terlihat jelas
dari mata Vero yang berair.
“Maaf hanya ini yang bisa kami
lakukan! Jantungnya begitu lemah! Saudara Robin sadah meninggal!” dokter berusaha menenangkan Vero.
Vero
menatap tajam dan kosong. Tak ada lagi
Robin yang selama ini selalu bersabar menghadapi sikapnya yang selalu menang
sendiri. Tidak ada lagi yang mengatakan kata-kata sayang dan melucu di depan
Vero.
“Yank!!!!!”
Teriak
Vero menyambut pelukan pada jasad Robin yang begitu dingin. Vero menangis dan
memohon pada jenasah robin.
“yank! Peluklah ku satu kali ini
jak yank! Penggang rambutku! Bilang kalau cayank, sayang sama Ve! Jangan
tinggalin Ve, Yank! Bangun! Ve, sayang sama cayank! Cium lagi kening, Ve!” Histeris Ve.
Vero
pinsan dalam pelukan tersebut, cinta sejati sudah terlambat untuk diselamatkan.
Egois dan amarah kedua pasangang ini terpaksa memisahkan mereka begitu jauh
dengan kematian.
Selasa, 29 November 2011
Cerpen "Tangisan, Fikri untuk Ibu!"
Namanya
Fikri, dulu dia pernah bersahabat dengan bangku sekolah dasar. Namun, beban
ekonomi keluarga yang hidup pas-pasan membuatnya terpaksa menghentikan cita-citannya. Ayahnya sudah
lama meninggalkan mereka, kata orang ayahnya sudah menikah lagi di Malaysia.
Sedangkan ibunya harus bergelut dengan dengan tumpukan sampah untuk mengisi
perut. Hampir setiap hari fikri bersahabat dengan bau busuk dan tanah yang becek. Nyanyian lalat-lalat sudah menjadi hal
yang biasa. Setiap hari beban dua puluh kilo memenuhi keranjangnya.
Gancu
di tangan kanan, handuk melingkar di leher, dan kain usang menutupi separuh
wajahnya. Fikri membalik satu per satu sampah-sampah bersama beberapa orang
pemulung lainnya. Setiap hari ia menghasilkan sekitar lima belas ribu rupiah
dari hasil keringatnya. Tak pernah terlintas untuk makan-makan mewah seperti
para saudagar. Tak juga terlintas dari didikan orang tuannya untuk menjadi
seorang peminta-minta. Urat-urat kasar bersama kulit yang kian melegam
menghapus cita-citanya menjadi orang kaya.
Satu
tempat yang menjadi sahabat dan rumahnya adalah bangkai bus bekas tabrakan yang
berada di sekitar tumpukan sampah. Fikri dan ibunya sering melepas lelah
melewatkan matahari yang begitu ganas menerjangnya. Hujan badai yang membuat
ulat-ulat sampah menari-nari di kaki kumuh itu. Tak sempat hidung menghirup
wewangian, rasa pengap, sesak nafas, dan suara batuk ibunyalah yang sering ia
dengar.
Fikri
menyandarkan badannya di pintu bus yang karatan itu. Ia meluhat para pemulung
tak kenal lelah mengorek-ngorek sampah. Adapula di antara mereka yang
bertengkar karena lahannya diambil orang lain. Tidak jarang terjadi perkelahian
di sana. Siapa yang berkuasa, dialah yang akan merauk hasil lebih.
“Bu! Fikri ingin jadi orang
pintar!” ujarnya
sedih.
Ibu
menatap fikri yang sedang melamun dan memberikan senyum lasu. Tak sanggup mulut
berbicara lagi, ibu memisahkan sampah-sampah sesuai dengan jenis sampahnya.
Terpancar ketidakberdayaan dari wajah ibu yang terus beraktivitas. Doa-doa
tertancap dalam dan terasa bosan untuk diungkapkan lagi. Bertahun-tahun semua
masih saja seperti sedia kala. Hanya tangisan tanpa air mata yang menjawab
doa-doa itu.
Fikri
memejamkan matanya, wajahnya tersenyum manis bersama tiupan angin sepoi-sepoi.
Sebuah mobil mewah mengatarnya ke sebuah sekolah. Ia melihat ibunya yang tampak
rapi dan berkerudung penuh cahaya. Fikri mencium tangannya dan berlari menuju
sekolah itu. Di sana ia melihat seorang guru sedang mengajarkan materi
pelajaran.
“Ayo! Siapa di antara kalian yang
punya cita-cita menjadi seorang dokter?” Guru bahasa Indonesia mengajukan pertanyaan.
Semua
murid-murid berebutan mengankat tangan mewakili cita-citanya. Fikri berdiri di
atas bangkunya dan terus berteriak mencari perhatian gurunya.
“Pak! Pak! Pak! Saya mau jawab!
Saya mau jadi dokter!” Fikri terus berteriak.
“Ha! Fikri!!! Kenapa kamu mau jadi
dokter?” Guru menanggapi fikri.
“Fikri mau bantu orang yang di
kampung! Pak!” jawab Fikri.
“Nah!! Itu ide cemerlang Nak! Bapak
senang sekali kamu mempunyai pikiran yang amat mulia seperti itu!” tanggap guru.
Kebahagiaan
terlintas dari wajah Fikri. Ia menceritakan cita-citanya di hadapan teman
sekelasnya dengan penuh rasa kagum. Rentetan mimpi menjadikannya dewasa dan
berjubah seorang dokter. Rasa dendam akan kebutuhan ekonomi menjelma lagi dalam
khayalannya. Kemarahannya mencuak setelah membayangkan sikap para tetangga yang
mengucilkan mereka sebagai orang kecil.
“Fik! Ayo !!!” Ibu menyentuh bahunya.
Fikri
terkejut dengan sentuhan yang membangunkan tidurnya. Kembali terhirup bau
sampah yang kian merusak jaringan pernafasan. Jantungnya yang berdetak kencan
memaksa matanya untuk menatap kosong pada tumpukan sampah itu. Ia marah pada
cita-citanya, ia marah karena semua hanya berlangsung dalam mimpinya.
Pernah
suatu ketika Fikri tidak ikut ibu untuk mulung di TPS. Ia sering melintasi Sekolah Dasar yang pernah
ia duduki beberapa tahun silam. Keceriaan siswa sekolah dasar dengan seragam
yang baru membuat hatinya penuh dengan keirian. Satu hal yang membuat Fikri
sangat tertekan adalah ketika orang-orang menghindarinya karena dia hanya anak
seorang pemulung. Mereka bilang Fikri anak yang jorok dan bau. Mereka takut
Fikri adalah anak yang penuh dengan kumal.
Ada
satu kebiasaan yang mewakili semangatnya menjadi seorang jenius. Fikri selalu
mengumpulkan koran-koran dan terus belajar membaca. Walaupun terkadang ia harus
bertanya pada penjual cendol di sekolah itu. Tanpa rasa sombong si penjual
cendol menjadi guru membacanya setiap hari. Penjual cendol itu meminta Fikri
untuk membeli buku-buku pelajaran untuk dibaca.
“Kalau mau pintar itu kita mau
belajar buka mau ke sekolah! Sekarang kamu beli buku pelajaran! Kamu pelajari
semuanya sambil mengumpulkan uang untuk daftar sekolah lagi!” nasihat penjual cendol.
“Iya bang! Bantu Fikri yah! Fikri
mau jadi orang pintar biar bisa beli obat untuk Mama!” dengan polos.
Setiap
hari saat Fikri istirahat mengumpulkan sampah, Fikri sempatkan untuk menemui
penjual cendol itu untuk belajar membaca. Hari demi hari semangat Fikri menjadi
orang pintar tampak ketika ia sudah bisa membaca dan menulis. Sesuai arahan si penjual cendol, ia menulis
sebuah novel yang mengisahkan kehidupan ekonomi dan cita-citanya yang
terkandas.
Dua
bulan berlalu, Fikri menemui si penjual cendol. Ia membawa tumpukan kertas
bekas yang berisi novel buatannya. Si penjual cendol hanya tersenyum mengejek
padanya. Tumpukan catatan itu tak dihiraukan oleh si penjual cendol.
“Bang! Bacalah! Fikri mau jadi
penulis biar dapat uang untuk beli obat!” sambil menarik-narik baju si penjual cendol.
“Abang nda suka baca-baca! Abang sibuk!
Lain kalilah yah!” kata si penjual cendol.
Fikri
tak bisa memaksakan kehendaknya. Kemarahan meluap dari wajahnya yang mengeram
masam. Ia menghempaskan kumpulan catatan yang ia ciptakan selama berbulan-bulan
itu. Fikri berlari kencang melintasi pasar sambil menangis. Langkah kakinya
berhenti di bangkai bus tempatnya mendapatkan banyak inspirasi ketika ia sedang
gudah.
“semua manusia sama saja! Tukang cendol,
tetangga, semua orang sama saja! Tidak ada yang mau menghargai usahaku! Katanya
aku harus pintar membaca dan menulis! Tapi, tulisanku malah ditertawakan! “ sewot Fikri sambil menyandarkan badannya.
“Fikri!!! Fikri!!!” teriak seorang pria dari kejauhan.
Fikri
mencoba menyimak dan mencari orang yang memangil-manggil namanya. Tidak salah
lagi tebakan hatinya, itu kakek Ramlan
tetangganya. Ia pun bergegas menemui kakek tua itu.
“Kamu harus segera pulang, Nak!
Ibumu sakit!” dengan terengah-engah.
Bulu
kuduk Fikri berdiri garang dengan rasa was-was. Langkah seribu membawanya
berlari sekencang-kencangnya. Dalam hatinya terngiang wajah ibu tercinta, kasih
sayang, dan perhatian ibunya. Sesampainnya di rumah Fikri terkejut melihat
orang-orang telah ramai di halaman rumah mungilnya. Tangisan mendera matanya
dalam debaran jantung yang kehilangan.
“Nak! Ibumu sudah tiada!” seorang ustad menahannya dengan nasehat.
Fikri
berontak, ia berlari mendekati ibunya yang telah terbujur kaku. Ia memeluk
ibunya, menciumi kening dan mengusap pipi ibunya yang pucat. Badan yang dingin
membuat Fikri histeris dan merasa kehilangan semua yang ia miliki selama ini.
“Mak! Bangun, Mak! Ini Fikri Mak!
Fikri udah belajar mak! Fikri mau jadi orang pintar! Fikri janji belikan obat
untuk, Mak! Banguuuuuu, Mak!” histerisnya.
Suara-suara
orang mendoakan ibunya membuat Fikri semakin tertekan. Ia tetap tidak terima
ibu kesayangannya sudah tiada. Bayangan tentang kesendirian di hari esok
membuatnya sangat tidak berdaya. Fikri terus histeris sampai terbaring tak
berdaya di samping jenazah ibunya.
Empat
jam berlalu, orang-orang membawa jenazah ibunya untuk di makamkan. Fikri terus
mengikuti hingga sebuah lubang mengakhiri pandangan Fikri. Wajahnya murung dan
terus memeluk batu nisan. Ia teringat akan suapan-suapan kasih sayang dari
ibunya, nyanyian serta pelukan hangat saat tidur. Fikri teringat akan kerannya
betis ibu yang bekerja keras membesarkannya.
“Mak! Mak! Bangun mak! Emak pulang!
Temankan Fikri di rumah, Mak! Fikri nda bisa sendiri. Fikri takut, Mak!” ucap Fikri berulang-ulang.
Tepukan
telapak tangan menimpa bahunya. Seorang pria berambut gondrong bertopi duduk
mendekatinya. Fikri tak pernah bertemu dengan sosok pria yang tersenyum
merangkulnya erat. Pria itu memberikan nasehat padanya hingga ia merasa kuat.
“Kamu lihat ini?” pria itu menunjukan kantong plastik.
“semua ini mahal hargannya, Nak!
Ini tulisan termahal yang pernah saya temukan!” ia menunjukan tulisan Fikri yang sudah ia
buang.
“Ambil saja semuannya, Om! Fikri
sudah tidak perlu itu lagi! Fikri hanya perlu Emak!” sambil melelehkan airmata.
“Om akan terbitkan catatanmu, Nak! Mulai
hari ini, kamu tinggal di rumah om” lanjut pria gondrong itu.
Fikri
tak sanggup menolak ajakan itu. Sambil menoleh dan enggan meninggalkan makam
Fikri mengikuti pria itu. Setelah enam bulan berlalu, sebuah buku berisi
catatan Fikri terjual. Fikri diangkat menjad anak oleh pria yang ternyata
adalah penulis buku di salah satu penerbit besar.
(CERPEN DI WARUNG KOPI INDOR PONTIANAK)
Langganan:
Postingan (Atom)


