CERPEN

Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Desember 2011

"ANAKKU, HARI INI HARI IBU"


Sudah tengah malam, badan letih terus menari-nari. Ku lihat di sekelilingku mereka tampak pulas menikmati malam. Suara ngorok, pelukan selimut yang membuat badan mereka hangat itu menggoda ku untuk beristirahat. Tapi kenap? Itu tidak terjadi padaku. Suara gelisah membuatku kembali berdiri dan melantunkan lagu lelah dan menari lagu letih. Ku tatap saja wajahnya, sedikit senyum dari pipinya membuatku semangat untuk mengeluarkan puting susu ku padanya. Dia mengisapnya dengan penuh rasa. Ya, dia anak ku tersayang.

Ayam berkokok, aku tak sempat untuk tidur walau anakku begitu pulas di samping ayahnya. Masih ada pekerjaan yang wajib ku lakukan setiap pagi. mencuci popoknya, bekas kecing dan berak yang amat bau sebenarnya. Tapi, semua itu memang tanggung jawabku. Dia anakku yang ku kasihi, dia adalah belahan jiwaku. Ku jemur helai demi helai itu dengan penuh cinta.
Matahari mulai menampakkan parasnya, aku tahu suamiku tercinta akan pergi ke kantor. Aku harus menyediakan sarapan pagi untuknya. 

“Pa! Kopinya di meja yah”

Sapaku pada suamiku yang menjawabku dengan senyuman.
Ku setrika pakaian suamiku, ku sediakan sarapan pagi untuknya. Badanku semakin lesu, sapuan air dingin menyapa kedua kelopak mataku untuk menepis kantuk yang amat berat itu. Tapi, kecupan hangat di keningku membuatku kembali bersemangat. 

“Papa berangkat dulu ya!”

Aku tahu, aku kembali sendirian hari ini. Air hangat sudah siap untuk si bayi tercinta. Dengan penuh hati-hati ku basuh ubun-ubun, matanya, montok badannya, serta sela-sela dagingnya yang yang membuat mataku geram. Aku tertawa keras, gerakan badannya seirama dengan tawa si bayi lucu di dalam baskom.
Sudah hampir siang, mataku sedikit pun tak sempat ku pejamkan. Aku harus bernyanyi lagi sambil mengoyangkan ayun itu sampai si bayi tertidur pulas. Sederet bantal guling itu  memanggilku untuk meletakan badanku. Aku masuk ke dalam alam letih, aku tertidur lelap. Tidur bagiku adalah gaji terbesar dari semuanya. 

“oooooeeeee”

Si bayi menangis lagi, air melucur dari ayunan itu. Aku menarik nafas panjang ku, membangkitkan badan sempoyongan. Ku sorongkan kedua tanganku dan memeluk bayiku dalam gendongan. Aku harus mengganti popoknya lagi. 

Waktu berganti, tahun-tahun membuatnya menjadi seorang anak yang hebat. Aku sangat bangga padanya, walau baru berumur delapan tahun. Ia sudah bisa menyediakanku kartu ucapan yang ia buat sendiri. 

“I MISS YOU, MAM” itu yang ku baca

Aku sadar hari ini adalah hari ibu. Air mataku berlinang, ku peluk anakku dengan kasih sayang. Ku sediakan masakan terenak untuk anakku, memberikan jajan yang lebih untuk membayar kartu ucapan itu. 

Sekarang dia sudah beranjak dewasa. Kesibukan mulai tersorot dari matanya, dia bergaul dengan teman-teman sebayanya. Pagi buta aku melihatnya terpejam, bagun, berseragam, melahap sarapan pagi, tapi aku tak mendengar lagi ia mengirimkanku kartu ucapan. Dalam hatiku yang lirih aku menangis di dalam kamar. Hari ini hari special, biasanya dia mengucapkan selamat hari ibu, dan aku memeluknya untuk membalas ciuman di pipiku. Aku tak bisa meminta, mungkin dia sedang lupa hari ini.

Semakin dewasa, semakin berat rasanya. Anak kesayanganku selalu menjawab semua nasehatku. Terkadang ia suka meninggalkanku begitu saja. Ia tak lagi mau mendengarkan dongeng-dongeng dariku. Kalau aku tidak memberikan jajan yang lebih, maka wajah masam lah yang ia kirim untukku. Terkadang ia melemparkan tas sekolahnya dan masuk kamar. 

Semakin dewasa lagi, aku kembali di uji olehNYA. Anakku tak memperdulikan semua pintaku padanya. Dia sering pulang larut malam, aku sebenarnya gelisah akan kesehatanya, aku juga gelisah akan pergaulannya. Aku ingin dia berhasil menjadi anak yang cerdas dan berbakti pada orang tua. Tapi, aku tak bisa berkata-kata. Aku takut ia marah padaku dan membeciku.

Waktu semakin menua, tetap saja hari ibu ini membuatku menangis. Aku rindu pada bayiku dulu, masa kanak-kanak yang selalu memberiku kartu ucapan. Tapi, hingga anakku sudah menduduki bangku kuliah, rasa gengsi membuatnya takut untuk mengucapkan selamat hari ibu lagi. Dia sudah jauh di sebrang kota. Mungkin sebentar lagi dia akan berkeluarga, memiliki anak yang lucu. Aku hanya bisa berdoa, semoga di hari esok ia akan mengingatku sebagai ibu, mengasihiku, dan mengirimiku lagi kartu ucapan itu. Atau aku akan berpasarah diri hingga aku tak akan pernah membaca tulisan sayang dari anakku lagi.

Sabtu, 10 Desember 2011

Kita dan Tuhan (Posisimu sebagai manusia)


Saat matahari membangunkan aku, kulihat jarum jam yang menyediakan masalah-masalah baru yang penuh berkat. Ku sirami sekujur tubuhku dengan air untuk menghapus kisah-kisah pahit di hari kemarin. Kini aku bercinta dengan hari baru yang penuh dengan sugesti hidup dan persiapan. Aku bahkan tak sempat menyiapkan sarapan pagi hari ini. Mataku ingin sekali terpejam lagi, tapi hatiku bicara 

“Lihatlah matahari pagi sebelum matahari itu pergi meninggalkanmu”

 Aku bergegas  membuka jendela kamarku. Diri sana ku rasakan kehangatan yang luar biasa mendarat pada kulit ku. Mataku tertuju pada dedaunan dan rerumputan yang menari segar sambil meniupkan terompet. 

“Ini hari yang indah”

Itu yang ku tangkap dari cara mereka menari-nari. Ku ambil segera kaos berkerah dan menyemprotnya dengan parfum. Menyetrika celana panjangku dan memoles wajahku di cermin untuk pagi yang indah ini.
Baru saja aku melangkahkan kaki di teras rumah. Gerimis perlahan melayang-layang  di depan ku. Aku pun tersenyum melihatnya, tanpa rasa takut ku lewati gempuran gerimis itu dengan hari yang iklas. Aku menyebut gerimis itu sebagai “Berkat” . Aku tidak merasa pusing sepeti mereka yang ketakutan dan menganggap itu adalah hujan panas. Mereka berusaha melarangku, menarik tanganku dan berbicara.

“Tunggu gerimisnya reda baru kamu pergi”

Mereka memang perhatian, tapi jarum jam bicara padaku dengan lembut “matahari akan kehabisan kesegarannya sebentar lagi”

Ku tarik kesimpulan untuk menguatkan dan melawan segala bahasa yang menghentikan langkahku. Hari ini adalah hari yang berbeda dari hari kemarin. Jika aku melewatkan hari ini, maka aku sudah kehilangan beberapa menit untuk masalah-masalah yang mendidikku esok. Ku ucapkan satu pendapat dalam perasaan yang paling dalam.

“Gerimis itu adalah berkat dari NYA! Dia ingin aku melihat dunia selagi mataku masih bisa melihat, Dia ingin mengajakku bercerita tentang hari ini karena mulutku masih tercipta sempurna, Dia tak ingin aku tertinggal saat mereka menghirup udara pagi yang indah, karena Dia sangat mengasihiku”

Aku pun melanjutkan perjalanan, tak ada rasa dingin. Satu demi satu ku perhatikan wajah-wajah yang membaur. Semua tampak ceria, indah, seolah menyetujui rencana yang di kirim hari kemarin. Aku pun tersenyum, sebab jawaban atas mimpi-mimpi yang terus membuatku malas sudah ku temukan pada hari ini.
Aku bersalaman dengan mereka yang tidak ku kenali, aku berbagi senyum pada mereka yang tua dan muda. Ku sematkan aroma-aroma kegirangan pada bola mataku dengan maksud 

“Mereka akan melihat dunia yang sudah lama hilang dari batin”

Hai kamu yang merasa lelah dengan beban mu, berteriaklah dan katakan dalam hatimu.
 
“segala yang kau tak sanggupi itu adalah rencanaNYA untukmu. Apa pun yang kamu lihat sudah di pertimbangkan olehNYA padamu. Janganlah engkau berkata tidak pada apa yang IA titipkan untuk kamu kerjakan. Tapi, sebutlah namaNYA dengan hormat agar kau bisa melakukannya sekehendak denganNYA.

Jika hari esok aku masih melihat matahari pagi, aku tidak akan lupa bahwa ada Dia yang membangunkanku. Jika aku melihat teriakan senja terngiang di telingaku. Maka, aku harus bersujud memuja dan berterima kasih atas waktu yang di sempatkan pada ragaku.  Untuk hari ini dan esok, untuk hari ini dan lusa, atau untuk hari ini dan hari-hari berikutnya. Izinkan aku berlutut memujaMU wahai sang pencipta segala macam yang ada di bumi termasuk semua yang telah Kau titipkan untuk ku bimbing dan ku lakukan.

Air akan terus mengalir begitu juga hari dan segala macam cuaca. Mereka siap menemani kita untuk kenikmatan-kenikmatan. Selamat mengucap syukur atas apa yang ada, dan bersujut atas layakmu sebagai manusia yang mencintai SANG KUASA.

Jumat, 02 Desember 2011

Puisi ku...

Sayang
mereka sering menceritakan kita
ada yang melihat kita dari kanan
ada pula di antara mereka yang melihat kita dari sudut kiri
menjiplak pengalaman itu!
ku ingin bertanya pada otak kepalamu
sisi mana yang kau gunakan untuk melihatku?

Mungkin!
Andai!
mudah-mudahan!
semua itu sering menjadi mantra
tak sanggup mulut bicara
mata mulai memerih
kita tetap menyebut nama dalam setiap hasrat

kau pelangi yang menerangi mataku\
kau hadir setelah dingin meramba tulang rusukku
kau selimutiku dengan ciuman di samping hidungku
masih ada senyum termanis di antara gadis-gadis
aku tak perduli!

setiap pasang mata layak berkesempatan menole
sanggupka aku menoleh ketika gelap menyembunyikanmu

Kamis, 01 Desember 2011

CINTA By Eny

 ÂșCinta...

Seperti mutiara yang semakin bercahaya.

Bahkan lebih ketika mahar keimanan menjadi satu pondasi.

Bukan lagi berkata, aku ingin dan aku mau

Karena cinta telah mengajarkan kita tentang keindahan

Hanya sejauh mana kita mau Belajar menjadi sang pecinta sejati.

Cinta yang halal.

Cinta..

Bagai mutiara yang tersembunyi dibalik karang.

Putih, bersih dan suci diatas mahligainya

Menjadi satu isyarat tentang sebuah makna.

Dalam keutuhan azzam yang membentang.

Cinta....

Aku ingin cinta yang putih, bersih dan suci.

Bahkan lebih dari itu tentang cinta

Cinta yang berharga dalam Bilangan Asma Nya.

Cinta yang tak hanya sekedar duniawi.

Aku ingin cinta yang halal bersama dalam setiap keberkahanNya.

Pun engkau, akan menjadikannya semakin berwarna.

Dalam putihnya hati nurani.

Cinta yang halal...

Berapa banyak dari kita yang mengharapkannya.

Sehingga bukan lagi untuk menghalalkan segala cara.

Karena cinta mengajari kita mengerti dan memahami.

Tentang arti sebuah keikhlasan.

Seberapapun engkau, aku dan kamu.

Milikilah cinta diatas cinta yang benar.

Berpijak pada satu kekuatan yang satu.

Biarlah...semua akan indah pada waktunya.

Tentang cinta yang halal.

Tentang kedewasaan cinta nya, cintaku dan cintamu .

Diatas jalan yang halal.

dan berakhir dengan keberkahan-Nya...

Semoga....

Selasa, 29 November 2011

29 November dengan MU


Aku mencintaimu dengan tulus…
Sekarang dan semoga untuk selamanya…
Walau kau tak pernah mendengar kata itu
Seluruh energiku ku persembahkan hanya untukmu

Aku teringat awal bertemu
Aku juga teringat tentang hari ini
Kau masih tetap seperti yang pernah ku kenal
Hadirmu menjadi pesona cinta dalam cita-cita.

Aku tahu!
Kebingungan melanda matamu yang membisu
Kau simpan erat kepanikanmu dibalik tidurku
Ada suka yang sulit kita rubah lagi
Melihatmu menjadi pelengkap hidupku
Ku tak pernah sangkali hadirmu menjadi hasrat dalam nafasku

Kamu lucu!
Gadis terlucu yang pernah ku temui
Kamu unik!
Sampai aku bingung untuk mengungkapkannya.
Matamu indah!
Sampai aku enggan berpaling!
Ku ingin ragamu dan ragaku bersatu seperti harap itu!
Kau mencintaiku karena siap menyelamatkanku dari karamnya biduk
Kau tak ingin melihatku tenggelam
Topangan itulah yang menguatkanku hingga kini.

Prosa ini tertulis saat kau berada di sampingku
Prosa yang mengingatkan pijatan hangat dari jemariku
Membicarakan tentang rias yang kau panikkan.
Kau memang gadisku yang manja….
Walau terlihat kusut
Aku tetap mencintai mu seperti kitab yang tak pernah habis ku baca.
Sekarang hingga waktu tak bicara lagi!

Love U!


Tua Akan Menjemput Kematian


Saat aku di dalam rahim Ibuku. Aku hanya mendegar sedikit tantang dunia. Aku terus terpejam menikmati makanan-makanan yang enak dari Ibuku. Ketika aku terlahir kedunia ini, aku telanjang dan terbalut darah ketuban dari Ibu. Dia menangis namun tersenyum. Ibu merangkulku dan menyusuiku dengan kasih sayang. Ketika Ibu sedang lelah menyusuiku, Ayah, Cinta sejati Ibuku mencucikan popokku. Aku hanya bisa membalas dengan senyum termanis yang membuat mereka sering menciumi pipiku. Sesekali, air seniku meluncur tanpa perasaan. Tapi kasih sayang Ibu dan Ayahku terus datang, ketika mereka membedaki badanku, mengolesi badanku dengan minyak kayu putih agar selalu hangat. Bahkan, terkadang mereka harus meminjam uang saat aku sakit. Mereka melakukan apa saja demi aku.

Saat aku masih bayi, mama dan papa mengajariku mengucapkan beberapa kata "PAPA....MAMA" mereka ingin aku menyebut nama mereka. Terlihat keceriaan ketika pertama kali aku bisa menyebutkan kata itu. Mereka terus mengulang-ngulang walaupun sebenarnya aku lelah cuma menyebutkan dua kata itu. Aku sering pura-pura menangis, karena aku tahu kalau mama mendengarku menangis dia akan menggendongku dan menyayikan sebuah nada yang merdu. Aku tak pernah bisa mengingat lagu-lagu itu. Entah ciptaan sendiri atau menyanyikan lagu-lagi dari penyanyi terkenal. Itulah orang tuaku... mreka selalu sejalan dalam mengurusiku sejak kecil.

Aku pun beranjak menjadi anak kecil, aku sudah bisa bicara walau terkadang tidak jelas terucap. Ibu selalu setia menyetrika pakaianku, memberi sarapan sampai mengantarku ke Taman Kanak-Kanak (TK). Mama tidak pernah merasa lelah menungguku berjam-jam. Sedikit saja ada orang yang menyakitiku, maka mata mama langsung menatap tajam seperti burung elang yang hendak memangsa. Mama sangat sayang padaku begitu juga Papa.

Beranjak dewasa, aku menyelesaikan SMA ku. Aku mulai mengenal dunia luar, aku bergaul dengan begitu banyak warna hidup yang sesungguhnya. Hidup itu abu-abu, terkadang hitam terkadang putih. Beban orang tua semakin berat ketika aku harus menyelesaikan studi di kota yang cukup jauh dari mereka. Hampir setiap hari mama dan papa menelponku untuk menanyakan kabarku. Menanyakan kapan aku makan, aku sudah mandi atau belum, mengingatkanku saat aku harus kuliah dan membekaliku dengan semangat cita-cita yang besar.  Meraka tidak mengekangku bergaul dengan siapapun walau hati mereka selalu dilanda keresahan.

Inilah yang di sebut hidup. Aku selalu menjadi pusat pembicaraan di mana-mana semua berkat orang tuaku yang selalu menyebut namaku dalam doa-doanya. Saat aku jauh, aku teringat bahwa dahulu aku sering sekali melawan orang tuaku, bahkan aku pernah melihat ibuku menangis di dalam kamar setelah mendengar aku marah-marah pada ibuku. Ibu tidak pernah menjawab atau melawan perkataanku. Dia hanya terdiam dan menangis dalam persembunyiannya. Sedikit-demi sedikit ia selalu menyisakan uang belanja untuk ku. Ia resah jika di sini, aku tidak punya uang.

Siang ini aku teringat semua tentang kasih sayang Mama dan Papa. Tatapan kosong ini tertuju pada seorang yang sudah berusia lanjut. Aku teringat, suatu saat nanti orang tuaku akan semakin tua. Satu-per-satu rambut putih akan memenuhi kepala dan kumis papa. Kulit mereka tidak lagi selicin ketika mereka membelaiku waktu aku bayi. Sampai mimpi yang sering datang membuat aku masuk dalam suatu ketakutan. Aku takut suatu saat nanti aku akan hidup sendiri tanpa mereka. Aku mulai gelisah, karena aku tidak berada di samping mereka saat ini. Aku sering menanyakan kabar mereka, saat aku tahu mereka sedang sakit maka hari itu akan menjadi ketakutan yang teramat dalam.

Aku teringat ketika aku sendiri tanpa mereka berati mereka menitipkan kesetiaan mereka untukku dan istriku nanti. Kegelisahan hidup tidak berhenti sampai disini. Aku teringat suatu saat nanti aku juga akan semakin tua, keriput. Apakah anak-anakku akan menjauhiku karena studinya juga? aku berpikir, semakin tua manusia maka semakin hilang kejayaannya. Dia hanya orang tua, dia akan di kucilkan dari para remaja. Tidak ada lagi balapan motor, tidak ada lagi kuliah dan canda tawa. Habis sampai aku tenggelam di dalam tanah yang hanya rela memtrikan namaku di batu nisan.

Sabtu, 12 November 2011

Puisi Bidadari Benalu

Koar-koar cinta di dadaku
membumbung tinggi di singgasana penuh serdadu
mondar-mandir aku mencari titik cahaya
gelaplah jawaban penasaranku

Letupan hari yang dangkal mengerikan
meletakan cintaku di perapian hingga terlihat gosong dan mendebu
sia-sia!
ku ciptakan harmonisasi di jalan cinta dan ketulusan
menebut dan memanggilmu dalam rangkaian syair
aku sungguh kecewa!

Sia-sia!
aku menyimpan pancaran sinarmu dalam peti hari-hariku
menyiulkan lagu-lagu rindu sambil berhayal pada pelukan hangatmu
aku melengkapimu, Bintang
NAMUN, sia-sia terkurung di garis nasib ini

Kekosongan!

Lampu-lampu mulai meredup lagi
keyakinan berubah menjadi keragu-raguan yang terpilih
cinta yang berlandaskan kepentingan adalah PENINDASAN!

Hai, warna-warini yang kelabu
Aku berbicara dengan bahasa-bahasa prosa
ku torehkan tinta curhat sebagai arti aku sedang mengadu
APAKAH KAU TAK MENDENGARKU?

Ingin ku congkel telingamu (SENYUM)
tapi!
Kamu adalah cinta yang tak ingin ku sakiti
Ingin ku rusak pita suaramu
tapi!
Aku rindu bersama, bercerita, berbincang tentang kehidupan yang teramat sepi
Adakah engkau akan terganti? (SENYUM)

Curhatku adalah barisan kalimat prosa
dengarlah dan nikmati hingga kau mengerti
"sesungguhnya pelangi berharap engkau menemaninya"

(PUISI)Bersamamu

ku dengar belati-belati bersuara
teriakan-teriakan mendampingi kekeruhan
aku terkalahkan oleh suasana
terkulai bersama beban hitam di pundakku

bersama kicau burung ku coba bersiul
nada-nada ku rangkai membuka sudut mataku yang kuncup
nafas yang panjang...
tertiup dari bahasa yang tanpa asa

aku berteriak pada badan
berikan aku sedikit ketenangan
congkak langkahku terlalu miring
semakin retak bersama senandung kosong
senandung yang bercerita tentang kebersamaan
bercerta ketika kamu mendorong kepalaku dengan canda.
bertingkah goblok, tak ada rasa malu ketika itu!

mungkin 31 matahari menjadi pemandangan yang timpang
kerasnya permainan, sulitnya kaki ku merapatkan kekuatan
aku tersungkur
di tipu para wasit yang tak berlencana
mereka berpihak!
mengeroyokku yang hanya mainan kecil.

aku terperangkap lelah
cinta menjadi padanan kata yang ambigu
cinta menjadi rangkaian sulap silat lidah
terperanga
terjingkat
memilih cinta yang tak pasti harus mundur
kejamnya jurang, cadasnya batu tebing
mencongkel kulit ariku, walau ku paksa untuk berakhir

bersamamu adalah bahagia dan sedih
bersamamu adalah akhir yang tak berujung

Jumat, 11 November 2011

PUISI GOKIL "SAYANG"

hari-hari penuh keharuan
contoh-contoh menapak dalam keinginan
melihat mereka tertawa, bergurau dengan tepukan manja di bahu
lucu.
dari salah satu sudut aku memejamkan mata
aku melihat kamu.
aku membawamu dalam kata-kata
sudut bibirmu ku sentuh dengan telunjukku
sambil melirik kau terlihat anggun dan malu-malu
aku melihat kamu.
tapi semakin larut
semakin hilang kata-kata itu
keinginannya mengalahkan ketulusan
keangkuhannya mengalahkan 1001 alasan-alasan
memilih diam dan berlari
meringankan yang terberat
melupakan yang tak pantas dalam kata-kata

aku adalah logika-logika
hadirnya kamu bagai pasak bumi
harumkan sluruh badanku
menyuarakan bahasa-bahasa roman tanpa naskah
 aku melihat kamu
panorama indah itu seakan tak beralas
pondasi yang terbangun terjawab sudah dengan acuhmu

aku baru tahu tentang kamu
ternyata hanya sesosok hantu.
pantaslah tak bisa bicara.
melihatmu
aku jadi merinding.
aku merasa rambutmu tak pernah di keramas.
apakah di sana tidak ada sampo sayang?
lihat gigimu sampai ompong semua.
aku jadi ragu-ragu untuk bercumbu

ingin sekali aku memegang tanganmu
menyentuh pipimu
dalam getar, ku sentuh namun tanganmu terputus sayang
sayang.
jika nanti aku terbangun.
jangan kau percaya pada makna ini.
aku lari darimu bukan karena tidak cinta
aku lari karena kamu itu hantu.
ngeriii aku.....

Ketika Tuhan Jatuh Cinta

Aku yang sibuk dengan dunia
Lupa menyisihkan sedikit waktu untuk bersyukur padaMU.
Aku disibukan oleh aktivitas yang Engkau sediakan
Namun, aku lupa bersyukur atas rizki yang kau titipkan padaku.
Aku sering sibuk dengan urusan cinta.
Namun, aku lupa kalau Engkau yang menyediakan cinta itu untukku.

Ya Tuhan.....
TanganMu tidak kurang lebar untuk mengakatku
Pintu hatimu tidak kurang lebar untuk memanggilku masuk
Kasih sayangMu tidak kurang mesra untuk mengasihiku
Aku tahu! Akupun bertanya mengapa?

Dunia menguasai ragaku
Ingin ku serahkan semua yang sedang ku jalani ini
Ingin ku bangun singgasana di hatiku untukMu
Engkaulah yang menyediakan segalanya bagiku
terima kasih Tuhan.
Terima kasih.

Saat aku terlahir kedunia ini.
Engkau telah membisikan kata cinta padaku
Engkau sungguh-sungguh setia melebihi segalannya.
CintaMu tulus padaku namun aku selalu selingkuh dengan dunia.
Aku berlari walau ku tahu Engkau terus mengejarku untuk di selamatkan

Ya Tuhan.....
Orang-orang yang ku cintai adalah titipanMu
jadikan mereka perisai bagiMu
Tuntun aku melangkah bersama mereka
Aku mencintaiMU.

BONEKA MINI

aku pernah membelikan boneka mini...
warnanya putih dan hidungnya berwarna hitam
dia mungkin seekor panda atau beruang
atau mungkin lebih mirip sekor tikus...

kita menyimpannya dalam keranjang
kita memotretnya bagai kameramen handal
keduannya di susun mesra berpeganngan
terkadang kita sentuhkan hidung mereka
sangat mesra

dua senti bibir atasku menampakkan gigi
ku cari-cai foto-foto itu kembali
dibaliknya ada canda
kau dan aku bicara tentang mimpi
lakonnya itu...
si boneka mini yang putih

si boneka mini terkadang terlihat lucu
ku bawa kemanapun ku mau
ku masih teringat akan aksi di waktu itu
segengam kamera tersunting dari balik pelukan
lahirlah legenda cinta itu

ku melangkah dalam gontai
kaleng kosong menjadi aliran tendanganku
aku berteriak
mencari
merasa
menerjang
dari sudut malam yang ku lamunkan
aku bersujud lagi

aku bicara dalam kalimat prosa
menuangkan namamu dalam bahasa puitis
menanam spirit dalam cita-cita
sepanjang hayat hingga keriput ku mengakhiri ragaku

Senja (KITA) Puisi

Senja dalam syair-syair
seniman bicara dengan bahasa khias
dari sudut jiwa yang tak di sadari
muncul kamu dari indahnya matahari terbenam

kita bicara berbias senja
tertawa sampai lupa pada waktu
mata kita tertuju pada harapan di sana
meminta
mengucap
berserah pada takdir yang terus mengurai cita-cita

Syair-syairku ku cipta lagi
masih ku tulis namamu di waktu pagi
terbingkis mimpi yang menghadirkanmu
membingkai kerinduan untuk merangkaimu dalam syair-syair.

Ketika syairku melihat bola matamu
cahaya mentari terpantul bersama gemercik ombak di waktu senja
sugesti hidup bicara lewat riak air
angin terus berdoa meniupkan resah
aku dan kamu
hadir dalam genggaman yang begitu kokoh

tahun pertama berganti
semua menjadi sama dan seimbang
aku menyentuh lekukan pipimu
kau bicara tentang mataku dan alisku
aku bisikan kata sayang
kau menjawab ku dengan sipu dan malu-malu

syair  ku bicara tentang niat
bicara tentang bait-bait kejam yang terselip bisa
mengirimkan tangis
mengirimkan ragu
mengirimkan kemarahan
mengirimkan kedamaian lewat bahasa yang menjelma

aku dan kamu
angin
riak ombak
lamunan
semua mengharap jawaban pada mentari senja
syair-syir dan doa-doa
hadirkan kita sampai menutup mata

Lebih dari satu menit kita berbincang
lebih dari satu abad kita berharap
lebih dari gedung bercorak baja
lebih dari usia dunia aku menjelma
kita adalah butiran-butiran semangat
hadirnya kamu adalah energi bagiku
hilangnya pandangan mu
hadirkan rindu, kata mu

yah!
inilah yang seniman indahkan darimu
walau senja terus berganti-ganti warna
walau angin terus memberi suhu berbeda
aku percaya pada bahasa
bahwa hari esok adalah keseimbangan kita